[JDDSK] Duh…
Senin, September 8, 2008 0:42Sejuk pagi masih menusuk, saat Arie dan Rahman keluar dari lab itu. Pukul 8 nanti mereka ada rapat.
“Masih ada cukup waktu untuk pulang dan mandi” pikir Arie.
“Nama itu sulit dihapus Man.” ujar Arie pagi itu.
“Itulah akh… ente harus cepet bisa menghapusnya dari ingatan ente. Caranya… kejar yang ‘berkah’ ini.” Sahabatku itu memberi taushiyah ditengah perjalanan kami ke gerbang Ganesha.
“Ibaratnya, nama itu sekarang seperti virus dalam hati ente…”
“Klo gitu gimana dunk? Di install ulang?” potong Arie coba menebak arah analogi sahabatnya ini.
“Makanya harus dihapus…” jawabnya dengan tenang, “caranya… harus diisi dengan yang lain. Antivirus. Ya… yang ‘berkah’ ini.”.
“Sebenarnya pikiran logisku juga bilang begitu Man, hanya saja…” Arie bingung.
“‘Hanya saja’ apa?” tanyanya mulai memburu.
“Entahlah… aku nggak bisa menghapus namanya dalam istikharahku. Nama itu masih tetap hadir Man.”
“Duh… apalagi kalau seperti itu. Berarti itu ego ente yang bermain Akh. Sabar akh, ente tunggu kabar dari Rahmat lusa besok.”
Arie hanya melengos panjang dengan komentar sahabatnya tadi.
“Kenyataannya, hal itu nggak semudah teorinya.”
Rahman hanya menjawabnya dengan senyum. Kicauan burung sayup-sayup seakan membisikkan ketenangan. Berusaha meredakan gundah berkepanjangan dihati sahabatnya. Mentari belum pula meninggi, mungkin menunggu langit tersenyum. Masih panjang waktu menuju petang berikutnya menjelang. Mungkin masih ada gerimis yang akan datang siang nanti, tapi setelah itu Pelangi akan muncul sejenak, meredakan trauma gerimis untuk menyongsong cerah yang masih tersisa di langit petang.
Yes… it’s truly difficult to erase what happen nearly. O God… please answer! Is there still a chance? or that alternative is the only option left for me?
Traktir aku klo kmu suka artikel ini...



