Mencegah Sentralisasi Figur dalam Berjama’ah

Jumat, Juli 18, 2008 11:15

Mencegah Sentralisasi Figur dalam Berjama’ah

Oleh Ardian Perdana Putra *

Setelah lama nggak pernah lagi menulis di file word, akhirnya saya menyiapkan postingan ini sejak dari rumah. Karena takut ide yang sudah keburu muncul hilang sebelum sempat dipaparkan. Tulisan ini muncul sebagai tanggapan saya terhadap debat kusir tidak penting seputar PKS di forumdetik yang menurut pendapat saya tidak pada tempatnya dan sudah menjurus pada black campaign. Dialektika dalam obrolan ngalor-ngidul yang nggak jelas ujungnya itupun saya anggap terlalu kekanak-kanakan dan argumen yang digunakan oleh si-orang-bernickname-tobinx itu terlalu dipaksakan dan absurd.

Setidaknya ada dua thread yang tidak sengaja saya masuki di forumdetik yang isinya beraroma hasutan terhadap kader/simpatisan PKS dan masyarakat secara umum. Propaganda semacam ini sebenarnya tidak perlu ditanggapi karena hanya aksi cari ribut dari si provokatornya saja. Tapi bagaimanapun saya merasa butuh untuk memberikan opini dan gagasan saya mengenai salah satu topik tersebut. Hal yang mendorong munculnya tulisan ini hanya satu, saya ingin menunjukkan kepada masyarakat awam tentang indahnya perilaku berjama’ah dari kader dan simpatisan partai ini. Banyak hal yang saya temukan dalam jama’ah tarbiyah yang membuat saya jatuh cinta dengan interaksi dakwah bersama mereka.

Menarik menanggapi salah thread di detik yang membahas tentang ustadz Anis yang juga menyinggung sedikit mengenai tulisan Ust. Anis Matta seputar kader dakwah dan harta (pandangan islam terhadap harta). Saya memang tidak membaca semua, namun ada beberapa isu yang dihembuskan oleh si provokator (yang kemudian saya ketahui menggunakan ID/username ganda ~Thobinx a.k.a Istiqamah~) adalah bahwa sang Ustadz tidak layak berada dalam PKS, berorientasi materialistik, menjadi figur yang ditakuti di internal partai, dll. Dari dialektika absurd dalam forum tersebut saya bisa mengatakan bahwa orang ini (si provokator) pasti bukan kader. Logika-logika berpikirnya pun jauh dari bagaimana seorang bagian dari jama’ah ini dalam melihat interaksi dirinya pribadi dengan jama’ah secara keseluruhan.

Mengenai tulisan yang menjadi awal provokasi si biang ribut, saya pribadi terkesan dengan tulisan Ust. Anis Matta tersebut. Beliau membawakan sebuah cara pandang yang berbeda tentang bagaimana seharusnya seorang kader/da’i melihat realita materialisme dunia disekitarnya dengan tetap menjaga karakter ke-da’i-annya. Tulisan ini mengajak kita berpikir lebih holistik/global tentang konsep zuhud dan wara’ tanpa melupakan sisi sunnatullah manusia dalam melihat harta. Tulisan ini juga memberikan inspirasi baru tentang bagaimana ekspansi dakwah harus masuk ke semua kalangan, tidak saja kalangan dhuafa tetapi juga kalangan berada. Tulisan ini juga mengajak kita menyelami karakteristik psikologis obyek dakwah secara umum yang tentunya amat berguna dalam menentukan langkah-langkah pendekatannya terhadap nilai-nilai keislaman.

Anehnya kemudian yang ditonjolkan oleh si provokator itu justru malah nyasar dari esensinya. Saya prediksi, Ia hanya membaca sekilas paragraf-paragraf awal tulisan saja dan tidak membaca tuntas secara keseluruhan. Wajar jika kemudian yang muncul dalam persepsinya (atau lebih tepatnya ia inginkan agar orang mengira seperti itu persepsinya) adalah sang Ustadz sedang menggiring kader dakwah untuk lebih matre dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Saya berusaha berhusnuzhan bahwa hal itu yang terjadi, namun saya pun tidak menafikan kemungkinan bahwa munculnya tulisan sang Ustadz tersebut tak lain sebagai sebuah argumen yang dipaksakan dalam usaha menjatuhkan citra sang Ustadz. Dari sudut pandang kedua ini, saya melihat kebodohan dan dangkalnya pemahaman si provokator tentang konsep ideal seorang kader.

Berdasarkan sedikit pengalaman saya berinteraksi dengan jama’ah ini, saya melihat bahwa propaganda negatif semacam ini sebenarnya tidak akan berefek pada kader yang memiliki kefahaman yang cukup tentang nilai-nilai kejama’ahan yang di pegang oleh PKS. Mereka (dan juga saya insyaAllah) selalu digembleng dan diarahkan pada orientasi bahwa apapun bentuknya amalan kita tujuannya hanyalah ridho Allah. Orientasi ini menafikan berbagai motif-motif duniawi yang bersifat sesaat dalam aktifitas dakwah keseharian para kader. Mungkin sedikit contoh yang patut untuk disimak adalah salah satu nasehat/taujih dari Kang Haru Suandaru, Ketua DPD Kota Bandung pada ikhwah Relawan P2B seminggu lalu selepas mereka menunaikan tugasnya di posko bantuan korban kebakaran di Cikutra (13/06). Kutipan yang bisa saya ambil kira-kira begini (tidak sama persis, pendekatannya lebih ke esensi taujih tersebut):

“Sesungguhnya jika antum semua melakukan ini semua untuk meraih simpati masyarakat di sana, maka antum akan sakit hati. Jangan lupakan bahwa apapun kondisinya, semua amal tersebut hanyalah bagian dari usaha kita untuk mencari cara tercepat dalam meraih ridho Allah saja. Segala usaha yang antum lakukan telah mengorbankan dana, waktu, dan tenaga (sebagian relawan telah beranak istri dengan mata pencaharian yang bisa dikatakan minim dalam hitungan materil, tapi satu kelebihan yang saya syukuri, mereka kaya akan kefahaman tarbiyah dan militansi), akan menjadi tidak ada artinya jika yang mendasarinya adalah harapan agar mereka disana memilih PKS.

Jangan antum sekali-kali mengharapkan terimakasih atau simpati apapun dari mereka. Sesungguhnya apa yang kita lakukan sama sekali bukan untuk itu Akh…! Mereka berterimakasih pada kita atau justru sebaliknya… entah mereka memilih kita ataupun tidak, itu bukan urusan kita. Itu semua bergantung pada seberapa ridho Allah terhadap amal-amal dakwah kita. Tugas kita hanya satu, berusaha sebaik-baiknya dilapangan untuk membantu mereka dengan keikhlasan untuk Allah semata. Biar nantinya Allah yang menilai amal tersebut di sisinya. Jika Allah berkehendak dari silaturahmi dan amal-amal dakwah kita tersebut untuk membawa hati-hati mereka (masyarakat Bandung) pada dakwah maka dengan insyaAllah kemenangan dakwah akan datang dengan sendirinya.”

Deg… nasehat itu benar-benar menyetrum saya. Kata-kata tadi mengguncang kembali orientasi dan pemahaman saya selama ini tentang dakwah politik yang diusung ikhwah PKS. Merinding saya mendengar kalimat-kalimat itu dan mengingat tentang bagaimana diri saya selama ini. Taujih tadi membakar kembali motivasi yang sempat meredup dalam kejenuhan sesaat lalu. Kalimat-kalimat tadi menghadirkan inspirasi-inspirasi baru untuk menggarap ladang-ladang amal lain yang selama ini masih terbengkalai dan tertelantarkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat.

Orientasi keikhlasan dalam amal yang senantiasa ditanamkan dalam diri setiap kader partai dakwah ini telah memunculkan citra dan citarasa baru dalam dunia politik Indonesia. Citarasa kejujuran dan amanah yang telah sekian lama menjadi barang langka sehingga memupus optimisme masyarakat indonesia akan hadirnya perubahan, muncul kembali bersama hadirnya rombongan Ustadz di Senayan. Begitupun di daerah-daerah, keberadaan sosok-sosok asing yang dulu pada kesehariannya mengisi ruang-ruang pengajian dan halaqah, kini merambah ranah yang juga asing bagi mereka. Kiprah mereka yang sebelumnya seperti istilah asing dalam kamus perpolitikan pada era sebelumnya mulai mendapat sorotan publik. Terangkatnya kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, gratifikasi dan sejenisnya mulai muncul seiring dengan keistiqamahan mereka dalam menolak apa yang bukan menjadi hak mereka.

Sesungguhnya agak mustahil bagi saya membayangkan jika fenomena tersebut hanya sekedar untuk menarik perhatian publik dan sekedar mengejar popularitas. Keistiqamahan mereka selama 10 tahun ini mungkin cukup menjadi bukti bahwa fenomena ini bukan sekedar pemanis politik saat masa kampanye saja. Toh kenyataannya meski publik pers mengangkat kasus-kasus yang mereka ungkap, para ustadz dan ustadzah tersebut tetap dengan ketawadhuan serta kesederhanaan mereka. Diantara merekapun masih sebagaimana aktivitasnya dahulu, mengisi pengajian dan halaqah seperti biasa. Bahkan rumah-rumah mereka masih sama terpencil dan sempitnya seperti dulu, seperti tergambar dari sosok seorang Ust. Rahmat Abdullah (jika penasaran, tonton saja film ‘Sang Murabbi’ akhir juli ini! Hehehe… promosi!).

Juga kita lihat bagaimana sebenarnya kekuasaan bagi para ustadz tersebut bukanlah sesuatu yang mereka kejar-kejar. Amanah untuk mengisi pos-pos amanah masyarakat di legislatif dan eksekutif sebenarnya merupakan mimpi buruk bagi diri mereka pribadi. Amanah tersebut bagi mereka tak lebih dari sebuah keterpaksaan atas tuntutan kebutuhan dari jama’ah, bahwa harus ada orang-orang yang tepat untuk memangku jabatan-jabatan publik tersebut. Yang lebih menarik adalah, meski terpaksa, mereka tetap mengamban tugas tersebut dengan totalitas penuh sejauh yang mereka bisa. Subhanallah! Dari cara pandang mereka tersebut, muncullah fenomena baru dalam penjaringan calon legislatif/eksekutif. Untuk pertama kalinya ada partai politik dimana para kader intinya berebut menghindar dari pencalonan dan justru saling mendorong saudaranya yang lain.

Tergetar diri saya melihat fenomena-fenomena dari para ustadz, sosok kader inti dan para pendiri PKS ini. Mana mungkin saya tidak jatuh hati dengan sosok-sosok tersebut? Mana mungkin saya tidak percaya bahwa jika saya mengikuti mereka, niscaya saya akan digembleng menjadi figur muslim yang lebih baik? Bagaimana mungkin saya tidak percaya bahwa bangsa dan negeri ini memang jauh lebih mereka cintai dari pada diri-diri mereka sendiri? Bagaimana mungkin saya tidak merasa aman untuk memberikan kepercayaan politik saya dan menitipkan pengelolaan kebijakan negeri ini kepada mereka?

Rasanya nyaris tidak mungkin hal tersebut sekedar ilusi sesaat untuk menutupi motif-motif duniawi mereka dimasa yang akan datang. Nilai keikhlasan yang ditanamkan dalam tarbiyah bertahun-tahun yang mereka jalani telah menghilangkan rasa takut mereka terhadap terpaan opini negatif, pendapat miring, gosip-gosip atau justru kehausan akan popularitas, reputasi positif serta sanjungan yang mungkin muncul seiring datangnya amanah yang menjemput mereka. Sungguh, provokasi dan black campaign secanggih apapun tidak akan membuat mereka bergeming dan kebakaran jenggot karena hal itu tidak akan ada artinya dibandingkan betapa menggiurkannya keridhoan Allah yang mereka kejar. Jadi sungguh aneh tuduhan yang dialamatkan oleh si provokator dalam forumdetik tersebut. Non-sense dan absurd!

Adapun mengenai sentralisme partai terhadap figur-figur tertentu didalamnya, hal itupun sangat musykil dan tidak masuk dalam logika pribadi saya. Sejak awal dirintis, bahkan belasan tahun sebelumnya, saat para masayikh (tetua, sesepuh) dakwah baru merintis dakwah ini di Indonesia, tidak pernah menekankan figuritas dalam komunitas. Jadi, tidak seperti beberapa partai-partai lain yang menonjolkan sosok-sosok tertentu haus kekuasaan yang tak jarang juga dikultuskan oleh pengikut dan simpatisannya, PKS hanya mengenal kepemimpinan kolektif berupa Syuro. Kepemimpinan dan kebijakan internal partai bukanlah ada pada sosok-sosok Presiden Partai, Sekjen, Anggota legislatif, Ketua DPW, DPD, dll. Keberadaan mereka tak lebih adalah sosok komandan lapangan yang menjadi penyambung lidah dari kepemimpinan kolektif dalam Syuro.

Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat yang kita baca bersama melalui literatur shirah (riwayat/perikehidupan) Nabawiyah. Rasulullah bukanlah sosok yang dikultuskan oleh para sahabatnya, meskipun Ia adalah orang yang paling dicintai oleh mereka. Suara/aspirasi rasulullah bukanlah suara mutlak pula dalam forum-forum diskusi atau musyawarah dikalangan para sahabat (kecuali yang berkaitan dengan wahyu dan hal-hal fundamental dalam syari’at), terbukti dengan kisah musyawarah beberapa saat menjelang perang Uhud. Pengelolaan struktur kepemerintahan madinah pun tidak sentralistik dengan kekuasaan mutlak pada Rasulullah, melainkan adanya lembaga kebijakan kolektif yang terdiri dari beberapa orang sahabat senior (dan sistem ini terus digunakan pada masa khulafa’urrasyidin).

Jelas terdengar absurd jika muncul tuduhan bahwa sosok beberapa ustadz dalam lingkaran inti PKS mulai berubah menjadi figur yang haus kekuasaan dan ditakuti di internal partainya. Bagaimana mungkin komunitas yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan kolektif serta menjunjung tinggi prinsip musyawarah, akan membiarkan sentralisasi figur terjadi dalam tubuh komunitas tersebut? Apa lagi sebagai sebuah organisasi yang terstruktur dengan baik, PKS telah memiliki mekanisme tersendiri dalam menyelesaikan permasalahan internalnya. Jika ada pelanggaran kode etik dan hal-hal melenceng dari oknum kadernya, sudah ada mekanisme tersendiri untuk menanganinya melalui tabayyun dll. Hal ini membuat tuduhan tadi menjadi semakin tidak masuk akal.

Jadi, sebenarnya bisa dikatakan dengan sistem/mekanisme pembinaan (tarbiyah) yang dijalankan oleh kader dan PKS secara keseluruhan, potensi untuk bersikap oportunistik dan otoriter sebagaimana terbayang dalam pandangan si provokator itu sangat-sangat sulit tumbuh berkembang. Jikapun ada yang sengaja masuk kedalamnya dengan motif tersebut (beberapa waktu lalu saya baru mendapat sebuah istilah unik dari ust Rahmat Abdullah, yaitu “membonceng dalam jama’ah”) maka besar kemungkinan Ia tidak akan betah dalam jama’ah ini. Sistem ini tidak pernah berpegang pada karakter individual seorang tokoh, tetapi karakter kolektif komunitas sebagai suatu kesatuan. Meski begitu, kita pun tidak menafikan bahwa secara manusiawi peluang munculnya dorongan, motif, ego serta kepentingan pribadi dari setiap individu juga tetap ada walaupun insyaAllah sangat amat terminimalisir karena banyaknya kader lain yang akan mengingatkan. Kita pun juga harus menyadari bahwa bagaimanapun jama’ah ini bukanlah jama’ah malaikat yang bersih dari dosa, jama’ah ini tetaplah jama’ah manusia dengan segala bentuk keterbatasan dan kekurangan yang dimilikinya. Meski kurang dan terbatas, dengan mereka bergerak bersama, dalam gemblengan nilai-nilai yang sama, dan demi tujuan yang sama, insyaAllah mereka akan senantiasa bangkit dari dan memperbaiki diri untuk menjadi komunitas yang lebih baik. Wallahu A’lam Bishshawab.

*) Penulis hanyalah seorang blogger biasa yang sedang asyik mencicipi indahnya Tarbiyah

Download Tulisan Ust. Anis Matta: pandangan islam terhadap harta

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

1 Komentar

(Required)
(Required, will not be published)