‘Indah Pada Waktunya’ kata Al Quran

Selasa, Juli 1, 2008 16:04
Posted in category curhat, renungan, tarbiyah

reff:
… jika memang ini saatnya
mimpiku akan menjadi nyata
ku percaya kuatnya cinta
semua akan menjadi indah pada waktunya …

[Indah Pada Waktunya by Delon & Irene]

Lagu itu liriknya menyiratkan optimisme, makanya beberapa waktu lalu sempet juga ku posting disini. Berceloteh sedikit kurang nyambung, mengenai si kata ‘indah pada waktunya’ itu mengingatkan aku tentang gimana Alquran itu Allah posisikan sebagai Busyro sekaligus Tandzir (Kabar gembira sekaligus peringatan). Begitu banyak ayat-ayat Alquran yang jika digali lebih dalam maka sebenarnya dapat menjadi sumber inspirasi kita untuk senantiasa tidak berputus asa, tetap optimis dan berprasangka baik tentang rencana-Nya. Satu nukilan ayat yang sedang sering saya kutip sebagai status di YM saya adalah ayat ke 4 dari surat Maryam yang bunyinya:

Qaala rabbi innii wahanal azmu minnii wasyta’alarra’su syaiban wa lam akun bidu’aaika rabbi syakiyya” yang artinya “Ia (Ya’kub) berkata ‘Tuhanku sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah berputusasa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku“.

Ayat ini adalah tentang optimisme yang tak habis-habis dari Zakariya terhadap datangnya pertolongan Allah. Allah menjawabnya dengan ayat ke 7 dari surat ini:

Yaa Zakariyya innaa nubasysyiruka bi ghulaamin ismuhu yahya, lam naj’al lahu min qablu samiyya” yang artinya “Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia“.

Rangkaian ayat dari ayat pertama hingga ayat 9 adalah salah satu rangkaian ayat paling keren yang jadi favoritku dari surat Maryam ini.

Ahh… selesai juga pengantarnya (oh… tadi itu pengantar ya… hehe). Menarik juga jika kita membandingkan antara definisi “indah pada waktunya” dalam versi persepsi kita sebagai seorang manusia yang begitu terbatas ilmunya dibandingkan dengan “indah pada waktunya” dalam versi Allah yang menciptakan kita. Ada kalanya kedua bentuk definisi itu bisa jadi sejalan, namun kadang pula justru berlawanan. Ada kalanya apa yang kita kira ‘indah’ ternyata bukalah sesuatu yang ‘indah’ bagi Allah. Kadang kala justru sebaliknya, karena keterbatasan akal dan emosi yang kita miliki, sesuatu yang ‘indah’ yang telah Allah siapkan bagi kita ternyata bisa jadi tidak kita lihat sebagai sesuatu anugerah yang terindah bagi diri kita, yang kemudian justru kita terima dengan berkeluh kesah dan kurang ridho. Padahal baik ridho maupun tidak ridho… hal itu akan tetap Allah tetapkan untuk kita.

Ini sebenarnya sebuah refleksi pribadi tentang bagaimana aku selama ini masih begitu sulit menjaga husnuzhan pada Allah di dalam mindsetku sendiri. Padahal apa ya, yang ku tahu tentang diriku? Masak iya aku lebih tahu daripada penciptaku sendiri? Bukankah ia yang paling tau tentang setiap inci tubuh ini, setiap detik usia ini, setiap hal yang tersembunyi bahkan dibalik bilik terdalam hati. Sekali lagi ini adalah tentang mindset.

Aku kemudian bertanya, “sudahkah ikhtiar ini maksimal?”, betapa lemahnya aku bergerak yaa Rabb. Pertanyaan selanjutnya, “Sudahkah doa-doaku maksimal?”, Argh… betapa sedikitnya aku mengingat-Mu Tuhanku. Selanjutnya… “Sudahkan hati ini kulapangkan lebar-lebar… agar ikhlas menghiasinya?”… hah, betapa riya dan ujub masih menutupi amal-amal yang sedikit dan minim itu. Ternyata belum ada yang dapat mampu membuatku bernafas lega. Diriku memang sama sekali belum maksimal berusaha.

Tapi kemudian apakah ini akhir dari segala pengharapan itu? Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Kita memang tidak maksimal berusaha. Tapi hanya itu yang mampu kita lakukan. Jika pun kita berpuas dengan apa yang kita lakukan, apalah artinya jika kepuasan itu tidak berbuntut ridhonya. Kita hanya bisa menerka-nerka sketsa jalan masa depan yang ingin kita tempuh dan terbaik dalam pandangan kita. Kemudian tugas kita selanjutnya tidak lebih… hanya berikhtiar dan berdoa. Mengusahakan semaksimal hingga limit yang kita punya, kemudian berserah pasrah dalam sujud-sujud yang sunyi agar Ia sudi mempertimbangkan amal yang cuma secuil itu demi terwujudnya apa yang kita impikan.

Lalu setelah segala usaha total itu, selanjutnya pilihan kita hanya ada satu, berhusnuzhan terhadap apapun yang Allah berikan setelahnya. Kita harus memantapkan diri kita bahwa apapun yang terjadi, mungkin itulah definisi “indah pada waktunya” bagi Allah. Mungkin itu berarti jalan yang mudah dan peluang yang datang dari berbagai arah yang tidak kita sangka-sangka. Mungkin pula itu berarti ‘kegagalan’ yang sangat mungkin sebenarnya bukanlah sebuah bukti tidak dikabulkannya doa kita, melainkan sebuah keberhasilan yang Allah tangguhkan agar kita terlebih dulu menjadi orang yang belajar menjadi lebih baik, sehingga kita benar-benar siap menerima anugerahnya yang lebih indah. Atau mungkin pula Allah ternyata lebih mencintai kita sehingga mencabut nyawa kita dalam keridhaan padanya dan juga dalam ridhanya.

Itu hanya sekedar beberapa opsi mindset yang bisa kita pilih. Tapi bagaimanapun, berhusnuzhan atau tidak berhusnuzhan… ketentuan Allah tetap akan datang. Memilih meratapi ‘kegagalan’ atau belajar menambal kesalahan dan aib masa lalu, akhirnya menjadi pilihan kita masing-masing. Memilih menyesali masa lalu sehingga membuat kita lupa merencanakan masa depan pun terserah pada pribadi-pribadi kita. Namun satu hal yang pasti, setiap proses yang kita lalui itu akan senantiasa menjadi ujian bagi kita. Akankah kita menjadi hambanya yang lebih baik dan diridhainya, ataukah justru menjauhkan kita dari ridhanya. Pada akhirnya, memutuskan untuk kecewa dan menyalahkan keadaan hanya akan semakin mengurangi kesempatan kita untuk meraih peluang untuk mendapatkan ridhanya diakhirat kelak. Dan pada akhirnya, hanya ada satu pilihan mutlak untuk tetap berhusnuzhan pada ketentuan Allah apapun yang terjadi.

[Bismillahi... in kunta tardho... fa laththif qalbaha yaa muqallibal quluub]

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

1 Komentar

(Required)
(Required, will not be published)