Shalat Leadership
Rabu, Juni 25, 2008 11:01[Skanda Office: Rabu, 25 Juni 2008, 06.30; Ini langkahku!]
Hohoho… ini dia, ada shalat gaya baru. Waduh, itu mah bid’ah atuh. Gak ding, judul tulisan ini terinspirasi dengan shalat subuh tadi pagi di mesjid Daarud dakwah Pelesiran, Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Republik Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi! (*halah*) Silsilahnya lengkap pisan, ternyata kita begitu kecil di hadapan-Nya sodara-sodara! Ya, aku berbicara tentang shalat subuh berjama’ah yang ternyata memunculkan insight baru tentang kepemimpinan.
Mungkin benar juga apa yang disebutkan oleh orang-orang arif (meskipun nggak pake ‘Rahman Lubis’) bahwa shalat berjamaah itu adalah miniatur kepemimpinan dalam umat. Jadi wajar jika ketertiban dan keteraturan yang ada dalam prosesi shalat berjama’ah itu seharusnya membekas pada kehidupan keseharian kita, kalau memang kita mendambakan kehidupan bermasyarakat yang teratur (mungkin enaknya pake istilah madani kali ya, biar keren). Ada beberapa nilai yang bisa kita ambil dari shalat berjama’ah, yang kalau dipikir-pikir mungkin analog dan bersifat solutif dalam pembentukan masyarakat madani seperti tersebut diatas.
Nilai pertama adalah bahwa dalam sebuah jama’ah atau masyarakat dibutuhkan kesefahaman (saya mencoba membedakannya dengan keseragaman yang monoton) visi dan tujuan. Maka dari itu, fungsi imam sebagai pemimpin shalat tidak membuka peluang untuk adanya suatu dualisme kepemimpinan, baik secara dzahir maupun bathin. Secara dzahir, gerakan shalat yang dilakukan semua makmum jelas harus mengikuti apa mau imam. Bahkan kalau ada kesalahan atau kelupaan yang dilakukan imam, maka semuanya harus ikut sujud sahwi. Begitu pula jika ada ayat sajadah yang di bacakan, dan imam memutuskan untuk sujud ditengah ayat, semua makmum pun mengikuti. Secara bathin, niat shalat pun harus sama antara imam dan makmum. Mungkin sedikit pengecualian dalam kondisi safar dan dilakukan jama’ qasar dan menjadi ma’mum masbuq ketika kita tidak tahu (barisan shalat) jama’ah yang kita ikuti sedang shalat ini atau shalat itu (wadoh… ini bid’ah lagi, ada ya shalat ‘ini’ dan ‘itu’?).
Nilai kedua, kita sih boleh tawadhu, tapi shalat berjama’ah tetep harus ada imamnya. Ada hal yang menyentil sensor inspirasi saya saat shalat subuh tadi pagi. Selama beberapa saat jama’ah shalat subuh berbaris rapi tanpa ada seorangpun yang mau maju kedepan sebagai imam. Semua saling mempersilahkan jama’ah yang lain karena sama-sama kurang pede. Seorang bapak mempersilahkan seorang mahasiswa ber-sarung-peci-baju koko untuk maju, tapi orang yang disuruh itupun mempersilahkan sang bapak untuk maju pula. Akhirnya satu orang berkacamata yang berdiri diantara mereka memutuskan untuk maju dan memimpin shalat. Tanpa maksud mencela, saya nilai bahwa si mas ini punya masalah dengan tahsin (pertanyaan 1: Siapakah Tahsin itu? A. anaknya ustad Husin, B. Anaknya ustad Mukhlis, atau C. Bukan anak saya).
Nah, kontras sekali dengan kondisi perpolitikan indonesia dan dunia pada umumnya (lho?), mayoritas politisi sudah putus urat malunya untuk mengevaluasi layak tidaknya dirinya untuk maju. Bahkan mungkin sampai ada yang memohon-mohon atau menghalalkan segala cara agar bisa terpilih kembali untuk suatu jabatan. Yang bisa kita ambil mengenai kepemimpinan dalam shalat, kita biasanya berpikir panjang sebelum memutuskan untuk mengimami shalat. Intinya adalah kehati-hatian dalam melihat tanggungjawab yang akan atau harus diemban. Apakah ada yang lebih tua/sepuh? Atau adakah yang lebih fasih bacaannya? Atau adakah yang hafalannya lebih banyak? Hal ini wajar karena kita sadar beban yang ditanggung oleh seorang imam shalat. Masalahnya adalah, mengapa para politisi kita [kebanyakan] tidak berpikir seperti kumpulan calon makmum menentukan imam shalatnya?
Ibroh yang bisa diambil dari kejadian tadi, bahwa ternyata berinisiatif memimpin itu penting, tetapi sebelum kita memutuskan berinisiatif itu, membekali diri dengan kompetensi juga tidak kalah penting (Jleb. Sindiran telak untuk diri sendiri! Ayo lulus, hiks!). Maka dari itu mungkin alternatif terbaiknya adalah apapun yang terjadi di masa depan kita terus berusaha membekali diri dengan berbagai kompetensi tanpa ngoyo mengejar posisi. Tetapi ketika orang-orang disekitar kita ternyata menghendaki kita untuk memimpin (mungkin karena melihat dedikasi dan kompetensi tersebut), maka mantapkan diri untuk maju mengemban amanah tersebut semaksimal yang kita bisa.
Satu nilai lainnya adalah tentang butuhnya mekanisme koreksi yang baik dan beradab untuk mengingatkan kesalahan pemimpin. Pernah liat ada Imam dijitak sama makmumnya? Ditempeleng atau digebuk dari belakang mungkin? Tentu tidak kan sodara-sodara? Dalam shalat mekanisme tersebut dilakukan dengan mengucap subhanallah untuk laki-laki (untuk perempuan klo nggak salah menepuk tangan kan ya? Wallahu a’lam). Menurut saya pribadi bentuk koreksi semacam itu dalam kehidupan riil bisa dilakukan dalam bentuk audiensi ke lembaga legislatif atau aksi simpatik. Yang tidak diharapkan adalah bentuk-bentuk penyampaian koreksi yang rusuh dan menimbulkan kerusakan sehingga malah menyebabkan antipati di masyarakat.
Sebenarnya mungkin masih banyak ibroh yang bisa kita ambil dari shalat berjamaah. Namun mungkin tulisan ini hanya sampai disini, semoga bisa menjadi pancingan bagi kita semua untuk lebih menghayati ibadah yang kita lakukan agar memiliki efek dalam keseharian kehidupan kita. Tulisan ini mungkin menjadi sebuah koreksi bagi penulis pribadi. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan keren di masa depan (*halah*). Amin.
Traktir aku klo kmu suka artikel ini...




