Konduktor…
Senin, Juni 23, 2008 15:35Seandainya saya diminta menggambarkan keadaan ruhiyah diri saya sebagai suatu benda, maka mungkin yang agak mendekati adalah sebuah konduktor. Apapun jenisnya, saya merasa diri saya seperti sebuah konduktor. Apa yang mendasari munculnya pikiran tersebut? jawabannya ada pada sifat sebuah konduktor tersebut, mudah untuk dipanaskan tetapi mudah pula untuk dingin begitu tidak lagi dipanaskan.
Ya, begitulah kira-kira keadaan ruhiyah saya. Mudah panas atau ter-isi-ulang oleh nutrisi ruhiyah yang saya temukan dari sumber apapun, tetapi secepat itu pula ruhiyah tersebut drop kembali. Hal ini menyebabkan saya begitu menunggu-nunggu asupan ruhiyah dari luar. Moment-moment seperti daurah, training, diklat, pelatihan, taujih dan sejenisnya baik sebagai peserta maupun panitia menjadi hal yang begitu saya nantikan. Pada moment seperti itulah ada suatu moment penjernihan pikiran yang saya rasakan. Meski sejujurnya pada saat menjadi panitia untuk event sejenis hampir selalu muncul pikiran bahwa keberadaan saya didalam tim hanya akan memberatkan panitia yang lain, namun saya juga merasa amat sayang jika harus meninggalkan kesempatan bertemu moment semacam itu.
Entahlah… mengapa perasaan ‘menjadi beban’ itu senantiasa muncul. Yang ada dipikiran saya selalu bahwa kontribusi saya didalam tim adalah tidak maksimal. Namun jika saya meninggalkan moment tersebut, saya takut bahwa saya nggak akan pernah tahu apakan pencerahan akan datang dimasa-masa berikutnya. Jika ternyata malah futur yang melewati limit maksimalnya, kemudian Allah berkehendak dengan cara itu mencabut nikmat hidayah yang Ia turunkan? Pertanyaan ini mengingatkan saya akan bagaimana sejak dulu ada sebuah nilai yang tidak henti-hentinya ditanamkan oleh senior-senior saya:
Sesungguhnya dakwah ini tidak pernah membutuhkan antum! Antum bergabung atau memilih pergi, jika Allah ridha sesungguhnya barisan ini tidak akan kehilangan sedikitpun. Jika Allah ridho, maka akan selalu datang generasi baru yang siap menggantikan antum, dengan kafa’ah dan keistiqamahan yang lebih. Sehingga Allah meridhai kemenangan mereka atau menganugerahkan syahid bagi diri mereka. Jadi sesungguhnya kita lah yang membutuhkan dakwah ini, dan bukan sebaliknya.
Bagaimana hati ini tidak tergetar? Apalah artinya hidup kita jika Allah tidak ridho untuk menempatkan kita di dunia dan di akhirat bersama orang-orang shalih? Maka, meskipun nggak pernah lepas perasaan kecil diri tersebut, saya memutuskan untuk tetap ada bersama mereka, sambil tetap berusaha mencari-cari kekurangan yang ada dalam diri pribadi agar dapat memperbaikinya sehingga saya bisa memberikan persembahan terbaik bagi tim tersebut.
Traktir aku klo kmu suka artikel ini...




allah tidak lebih melihat keiklasan ant dalam ber amal daripada kuantitas amal ant. (allahu’alam)