Langit, Izinkan Aku Menemukan Pelangiku

Suatu Sore di Daarud Da’wah

By Ardian Perdana Putra • Maret 12, 2008 • Category: biografi, mahasiswa |

Suatu Sore di Daarud Da’wah

[Markaz, 12 Mar 2008; "This beautiful morning... reminding me for a moment, long time ago"]

Tukang Batagor

 

Ba’da shalat ashar… kupikir enak juga kalo aku bikin mie rebus ditemani pangsit goreng buat pengganjal perut selama ngelay-out didepat komputer. Aku belum makan siang hari ini, maklumlah salah satu cara berhemat adalah dengan membatasi anggaranku untuk makan hanya dua kali sehari. Cuma siang ini aku lapar betul dan untungnya persediaan ‘amunisi’ mie instan masih tersedia. Aku berencana masak mie rebus saus mentega dengan ditemani pangsit goreng. Selesai shalat di daarudda’wah, aku segera memesan enam biji pangsit goreng, nggak dipotong, dengan bumbu dipisah ke tukang batagor didepan masjid yang memang langgananku.

 

Sayang sekali, ternyata batagornya baru saja habis dan karena itu aku dan ibu-ibu tetangga harus menunggu si abang menggoreng batagornya. Okelah, aku nunggu di samping gerobak sambil memperhatikan aksi si abang menyiapkan tahu dan pangsit untuk digoreng. Hmmm… sebenarnya kupikir cukup mudah membuat batagor, hanya bermodal skill menggoreng dan sedikit pengetahuan tentang bumbu. Mungkin patut dicoba kalau aku sudah punya dapur sendiri.

 

Sejak tadi mataku berkeliaran kemana-mana, karena sebenarnya proses menggorengnya memang agak lama. Dan… tiba-tiba dari arah gang stone muncul sesosok makhluk berkepala hijau! Iya, seorang akhwat berjilbab hijau lebar serta rapi, dengan atasan putih bercorak, berkacamata tiba-tiba nyelonong lewat tak jauh didepan gerobak. Ting-tong… oke deh, aku cuma liat sepintas kok dan mataku nggak berusaha mengikuti arah jalannya. So, si akhwat lewat begitu aja.

 

Semenit kemudian aku tiba-tiba iseng ngeliat kearah si Akhwat tadi berjalan. Hmmm… pastilah sudah nggak ada. Sejauh mata memandang memang wujud si Akhwat udah nggak keliatan. Tapi, begitu mataku akan kualihkan kembali ke penggorengan si abang… lho ternyata si Akhwat yang tadi keluar dari daarudda’wah. Hahaha… aku cuma liat sekilas lagi lho dan segera meneruskan niatku ngliat penggorengan si abang. Tapi aku tau, sepintas tadi si akhwat tiba-tiba duduk didepan pintu ruangan masjid. “Ah, paling pake kaos kaki kali…” pikirku.

 

Tapi… kupikir lagi, kan jilbab rapih… kayaknya mah bukan berurusan dengan kaos kaki deh. Aku spontan melirik kearah masjid dan… *gubrak* plis deh! Si akhwat lagi nyengir lebar dengan kamera  yang ia arahkan ke wajahnya sendiri. Aku pengen ngakak tapi nggak enak kalo ketauan. Makanya, aku segera membenamkan kepalaku kebelakang gerobak sambil menahan tawa geli. Konyol banget sih tuh akhwat… gak nyadar apa kalo yang melihat insiden itu nggak cuma aku. Aku perhatikan si tukang batagor juga ikut melotot.

 

Sekali dua kali aku melirik lagi. Kulihat dia masih dengan santainya melihat hasil jepretannya. Dan sekali lagi, dia duduk persis didepan pintu. Yakin deh… kalo sampe ada yang keluar dari masjid, besar kemungkinan tuh akhwat bakal kepentok gagang pintu. Parah juga tuh… dia nggak nyadar apa, kalo lagi di tempat umum? Sampe subuh ini aku masih juga ngakak inget kejadian itu.

 

 

 

Adobe InDesign, I’m in Love!

 

Karena udah lama nggak berurusan dengan software ini, aku sebenarnya agak malas ngelayout buku IBC. Akhirnya proyek itu sempet ketunda beberapa saat. Diperparah lagi dengan kebuntuan ide tentang desain layoutnya sendiri yang memang agak dipengaruhi mood juga. Tetapi berhubung dikejar deadline juga aku coba memaksakan diri untuk sibuk dengan ma’rifatul maidan terhadap software ini. Biar hasilnya optimal, memang kupikir aku harus merefresh ulang lagi gimana cara mengefektifkan berbagai fasilitas dalam software ini.

 

Ini sama sekali bukan pertama kalinya aku melayout buku dengan adobe InDesign. Proyek pertamaku terhitung sukses, walaupun desainnya agak sedikit kaku. Tetapi hasil layout buku panduan alumni muda dari tim sukses Hatta kuakui kurang maksimal karena hanya dikerjakan dalam waktu semalam. Walaupun begitu, aku cukup puas dengan hasil layout buku pertamaku itu.

 

Tahap paling berat dan benar-benar membuat buntu otakku sebenarnya saat menentukan pemilihan font yang akan digunakan dan pengaturan style paragraf. Tahap tadi akhirnya selesai dalam semalam hari ahad lalu. Selasa ini aku sudah masuk tahap memasukkan artikel ke halaman-halaman buku. Bagian ini sebenarnya cukup mudah karena format template untuk setiap struktur tulisan sudah siap. Hanya saja aku menghadapi kendala berurusan dengan line-break yang berasal dari artikel web. Karena artikel itu di-copy-paste dari internet, sebagian tidak terkonversi dengan baik di file MS Word. Masalahnya muncul ketika kita menggunakan perataan teks ‘Justify’ karena semua ujung paragraf ‘melayang’ ke tepi kanan halaman dan ini sangat mengganggu.

 

Masalahnya nggak selesai sampai disitu. Ternyata setelah kuperiksa naskahnya, banyak kesalahan penulisan yang tidak teredit oleh sang penyuting naskah. Dan aku jadi harus kerja ekstra keras mengoreksi setiap kesalahan sepele semacam awal kalimat kutipan yang tidak menggunakan huruf kapital, kurang tanda baca, cara mengutip dialog yang nggak sesuai kaidah, dialog dua orang yang menyatu dalam paragraf yang sama, kalimat yang tidak tersusun dalam paragraf, dll. Mungkin memang harus membiasakan menulis sesuai kaidah dulu untuk membangun kepekaan dalam mengedit naskah ini. Yah… apa boleh buat, aku harus kerja dobel untuk menghemat waktu.

 

Anyway, walaupun banyak kendala, aku justru mulai menemukan passion dan mulai enjoy kembali menjalani aktivitas ini. Tiba-tiba aku semangat ingin secepatnya menyelesaikan layout buku ini. Ada suatu kenikmatan tersendiri saat energi pikiranku tercurah untuk mengeluarkan gagasan desain buku ini. Dan nggak kerasa, sudah setengah naskah yang kuproses kedalam buku. Jumlah halaman pun sudah menembus angka 200 halaman, dalam buku dengan dimensi 13 x 18,5 cm2 itu.

 

Well, aku berharap tak lama lagi buku ini sudah terlihat wujudnya sehingga kami bisa segera hunting sponsor ke jakarta. Saat ini baru dua sponsor yang kami dapat, provider hosting dan percetakan buku. Dan semoga ini menjadi awal yang baik untuk sebuah perjuangan panjang yang menanti kami di masa depan.

 

 

[O... God, please give me a perfect ending...]

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

1 Komentar

  • [...] itu mah bid’ah atuh. Gak ding, judul tulisan ini terinspirasi dengan shalat subuh tadi pagi di mesjid Daarud dakwah Pelesiran, Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Republik Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi! (*halah*) Silsilahnya [...]

    (Required)
    (Required, will not be published)

    « Our Lovely Startup Business [1] | Home | Ishbir yaa qalbi… »