Our Lovely Startup Business [1]

Rabu, Maret 12, 2008 11:56
Posted in category GPH, biografi

Our Dream Company…

Kemarin anak-anak GPH ngumpul rutin. Kita ngundang tim jakarta juga, tapi kita nggak jadi rapat fullteam karena yang bisa datang dari tim jakarta cuma Arif. Setelah sekian lama, aku sempet sampai pada titik jenuh dan mulai bertanya-tanya kembali tentang nasib perusahaan ini. Alhamdulillah, pertanyaanku tidak bertahan lama. Tadinya aku sempat berpikir mungkin kejenuhan itu juga dirasakan oleh Zamzam dan Ninda, tapi itu tidak terbukti. Dan aku patut untuk sangat bersyukur, kejenuhan yang kurasakan segera terobati dengan suntikan inspirasi dan semangat dari mereka.

Aku sebenarnya sempat merasakan kebuntuan ide saat beberapa waktu yang lalu beberapa peluang yang kuanggap mudah diraih tiba-tiba lenyap begitu saja, mulai dari lomba cerpen hingga seleksi calon tennant Inkubator Bisnis ITB. Terutama saat gagal masuk tahap presentasi di PIB, aku mendadak bingung mesti berharap kemana lagi dan bahkan sempat berpikir “mungkinkah ini akhir GPH?”. Padahal itulah kesempatan paling besar yang terpikirkan saat itu. Alhamdulillah, justru disaat semangatku surut itu, ternyata Ninda dan Zamzam sedang semangat-semangatnya.

Seiring berjalannya waktu memang akhirnya terbukti bahwa soliditas kita bertiga sejak awal ngerancang bisnisplanlah yang menjadi salah satu sebab GPH masih utuh sampai sekarang. Tentunya tanpa mengecilkan peran teman-teman yang lain seperti saat masih ada Lutfi atau sekarang dengan adanya Erik dan Arif, kenyataannya yang menjadi ThinkTank dari ide-ide besar GPH adalah kita bertiga. Nilai yang bisa diambil adalah saat kita membangun gagasan bisnis bersama harus ada segelintir orang yang menguasai ide besarnya dan menjadi pusat think-tank dari tim itu. Segelintir orang itu nantinya memiliki fungsi sebagai perekat dari keseluruhan tim.

Kemarin kita kembali membicarakan distribusi kerja di GPH. Setelah sekian lama mungkin ini tema yang butuh direfresh. Bisa jadi awalnya bermula dari kekhawatiranku [ato malah egoisme yah... smoga tidak] tentang distribusi tugas yang timpang dibeberapa bagian. Well, setelah di list, sebagai Dirut, tugasku adalah memimpin rapat, mencari peluang-peluang permodalan, dan mengelola website. Zamzam bertugas menjalankan aktifitas produksi mulai dari penjaringan naskah, mencari peluang-peluang seputar produksi, editing, layout dan cetak. Ninda bertugas merapikan administrasi, persuratan, upgrading SDM manajemen GPH, bendahara berikut berbagai tugas pembukuan keuangannya. Dan ternyata dugaanku salah, ketika kupikir masih banyak tugas yang tertumpuk di bagianku sebagai Dirut, ternyata tugas dari Ninda dan Zamzam lebih banyak lagi. Tugas tim jakarta, untuk Arif sebenarnya lebih banyak ke membangun jaringan dan Erik mengenai distribusi buku, tetapi dengan kesibukan mereka di kantornya masing-masing, lebih visibel jika mereka berdua berfokus pada arrangement jadwal dengan alumni dan perusahaan-perusahaan di Jakarta, biar kita yang follow-up dengan datang dari bandung.

 

Chance oriented or Problem oriented?

Keinget omongan seorang akh, dua tahun yang lalu. Waktu itu di organisasiku sedang banyak masalah (ya iya lah… kalo nggak banyak masalah mah nggak idup atuh!). Masalah yang menumpuk di saat yang sama itu menguras semua energi fisik dan ruhiyah. Parahnya aku sendiri emang dalam kondisi kurang fit secara tarbawi dan amalan yaumiyan. Ternyata hal ini berpengaruh ke aura rapat-rapat yang kita jalani. Nggak jarang dalam rapat itu kita kebawa pusing sama masalah yang ada. Ada seorang akh senior yang pernah ngasih sedikit renungan, kira-kira isinya begini: “Seberapa produktif rapat kita, salah satunya dipengaruhi mindset/paradigma yang kita bawa sebelum masuk ke rapat. Jika dalam mindset kita yang ada adalah masalah, masalah dan masalah, rapat ini nggak akan lebih hanya jadi forum curhat dan Qadhaya (keluhan). Tapi jika kita sejak awal mengkondisikan pikiran dan mempersiapkan diri untuk datang ke rapat dengan membawa gagasan, maka rapat ini akan menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah.”.

Hari-hari itu, rapat sudah menjadi kegiatan rutin yang monoton bagiku. Nggak di masjid, di kabinet, di taman ganesha ato dimanapun, yang ada diotakku itu adalah “kapan ya kita rapat lagi, aku mau ngebahas masalah ini nih…” atau sejenisnya. Akhirnya baru kerasa, memang terasa baik didalam rapat maupun diluar rapat, aku jadi kurang produktif. Salah satu penyebabnya adalah yang ada dipikiranku seluruh uneg-uneg itu harus keluar dirapat, sehingga justru kehadiranku bukan memberikan solusi tetapi menghadirkan masalah pada tim.

Keadaan yang berbeda kurasakan di GPH. Disini, yang aku rasakan, aku jadi lebih tertempa dengan semakin seringnya memimpin rapat. Entah gimana bisa begini, tetapi secara spontan rapat-rapat kami berubah jadi forum pencurahan gagasan dan bukan wadah curhatan. Memang sih ada saat-saat dimana kita jenuh dan buntu ide, tetapi seiring berjalan waktu yang sudah 8 bulan ini, sepertinya kami sudah mulai menemukan kultur kerja yang lebih ngepas untuk semua.

Rapat setengah mingguan kita memang jadi lebih sepi karena dibandung hanya ada Aku, Zamzam dan Ninda. Tetapi sepanjang pengamatanku, pembahasan rapat justru jadi lebih efisien dan optimal. Kita jadi lebih padat membahas berbagai hal. Salah satu refleksi bagi aku pribadi kupikir mulai dari saat ini aku mulai harus lebih kongkrit dalam membangun jaringan, karena dengan berjalannya tim jakarta, berarti banyak hal yang harus difollow-up lebih cepat. Ini berarti aku harus bernafas lebih panjang dan menyiapkan stamina lebih fit agar dapat berlari lebih kencang dan jauh. They depend on me and I depend on them.

 

 

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

Tidak ada Komentar

(Required)
(Required, will not be published)