[GPH History #1] It starts with…
[GPH History #1] It starts with…
Siang itu, akhir pekan di awal september…
Seperti hari-hari yang biasa kulalui… terlalu banyak mimpi yang masih tetap menjadi mimpi. Rencana untuk menyusun bisnisplan masih hanya sebatas rencana. Waktu itu aku baru sebatas membagi ideku ke beberapa orang, diantaranya Zamzam. Tetapi sekali lagi, itu semua masih sebatas rencana yang tidak jelas tahapan dan targetannya. Akupun masih bingung mau seperti apa tim yang akan merintis usaha ini bersamaku. Apa kalian tahu? Semua itu tiba-tiba saja jadi nyata karena kejadian singkat yang tidak pernah kusangka-sangka.
Saat itu sudah beberapa lama aku menjaga jarak untuk tidak berkomunikasi dengan akhwat manapun. Menghindari untuk berpapasan dengan akhwat adalah salah satu cara yang kutempuh. Siang itu aku berencana bertemu dengan seorang alumni di Salman, bersama dengan rekan-rekan GFFI. Rencana itu batal terlaksana, dan aku memutuskan pulang. Saat itu sekitar pukul setengah dua siang. Dalam perjalanan meninggalkan kantin pikiranku melayang memikirkan kompetisi yang kubuat secara nekat di internet. Aku sebenarnya agak mumet memikirkan masalah permodalan dan sponsor.
Tiba-tiba saja dari arah gelap nyawang aku melihat seorang akhwat kabinet. Aku nyaris berusaha menghindar, tapi terlambat! Mau tak mau aku akhirnya berpapasan. Sedikit ragu aku berniat memberi salam. Tapi…
“Ardian, saya mau dunk ikut bisnis sama Kamu dan Zamzam…”, sebuah awal yang aneh mengingat kami nggak pernah berinteraksi lagi setelah pemilu 2007.
“Lho kok kamu tahu?”, Hhh… sebuah pertanyaan bodoh!
“Kan sering diposting ke milis.” jawabnya.
“Oh iya ya…”
Aku memang sempat mengajak rekan-rekan seangkatan via milis, tapi kupikir tidak ada yang akan menanggapinya serius. Lagi pula apa yang kuposting sebenarnya lebih banyak bersifat bluffing saja, sekedar lintasan ide yang tercurah begitu saja dari kepalaku. Memang ada seseorang yang kuharapkan untuk bergabung, but until now I think I must keep that hope just in my dream.
Agak ragu, aku menjawab… “Mmm… boleh, kita emang kurang orang…”
“Tapi saya nggak ngerti bisnis kalian kayak gimana…”
*Gubrak!* nah lo… terus kok ujug-ujug menawarkan diri bergabung…
Tapi tiba-tiba terlintas ide spontan dalam kepalaku. Aku ingat sebenarnya aku dan Zamzam berencana untuk ketemuan pekan selanjutnya, mungkin senin atau selasa. Dan aku segera terpikir bahwa saat itu adalah kesempatan emas untuk mewujudkan pembuatan Bisnisplan yang belum kunjung kongkrit sejak bulan Juli. Dan kebetulan sekali… bulan ini ada perlombaan bisnisplan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga. Akhirnya aku coba memberikan gambaran singkat tentang gagasan yang sebenarnya ingin aku lakukan. Lalu…
“Oh iya, gimana kalo kita ngumpul dulu? Kebetulan besok saya sama Zamzam ada rencana kumpul sih…”
“Mmm… jam berapa?”
[...]
Akhirnya kita janjian untuk berkumpul di selasar Campus Center barat ITB, pukul 1 siang. Pertemuan kami bertiga siang itu ternyata menjadi awal dari sesuatu yang kongkrit. Beberapa pertemuan kemudian ide-ide kasar yang awalnya hanya ada di otakku terwujud nyata menjadi bisnisplan, dan tidak hanya itu… hingga hari ini ternyata masih begitu banyak peluang yang menanti untuk kami garap. Ditengah naik-turunnya semangat dan kejenuhan yang sempat kualami… aku tiba-tiba memperoleh semangat baru jika mengingat perjalanan usaha kami ini. Aku sempat beberapa kali berpikir, jika saat itu Ninda tidak menawarkan diri untuk bergabung dengan aku dan Zamzam… mungkin Ganesha Publishing House hanya akan menambah setumpuk mimpi yang tidak pernah terwujud dalam hidupku.
[With an endless hope... teruntuk orang-orang hebat dalam hidupku: Zamzam, Ninda, Arif, Erik dan Luthfi... terimakasih telah membuat mimpi ini menjadi kenyataan]
Traktir aku klo kmu suka artikel ini...


















Wall RSS Feed
Tidak ada Komentar