Catatan akhir minggu ini…[1]

Minggu, Maret 23, 2008 6:51
Posted in category biografi, curhat, nge'londho'

Catatan minggu ini…

[Markaz, 22-23 Mar 2008; “Pekan yang melelahkan...”]

 

Aku ingin yang ini… aku ingin yang itu…

ingin ini… ingin itu… banyak sekali…

semua… semua… semua… dapat di kabulkan…

dapat di kabulkan dengan kertas ajaib…

aku ingin bidadari yang perkasa…

La… la… la… aku bingung sekali…

Bidadari…

 

[220308 03:55-bangun tidur ku masuk angin…]

Pagi nanti rapat GPH dan ikut seminar di SBM. Perlu bernafas lebih dalam lagi…

 

Arda dan Ardo

Awalnya aku ingin memberi mereka nama Ar-Ar dan Dee-Dee, hanya saja ternyata salah satu dari mereka protes karena disebut dengan nama buntut sedangkan yang satu lagi merasa namanya sulit disebut. Akhirnya sebagai jalan tengah kuberikan mereka nama Arda dan Ardo yang sama-sama mengandung ‘ard’ dan masing-masing unik sesuai huruf terakhir nama mereka. Sekarang aku akan memperkenalkan sosok mereka berdua. Aku berharap tidak ada dari mereka yang protes karena kubuat tulisan ini. Pada prinsipnya tidak ada yang benar dan salah, yang ada adalah sejauh mana kita bisa memanajemen personality/karakter yang ada dalam diri kita. Jangan sampai kita menghakimi ketidakkonsistenan diri kita sebagai sebuah aib/masalah, karena bisa jadi justru karakter yang bertolak belakang itu ternyata penyeimbang internal bagi diri kita.

Perkenalkan saja tokoh pertama kita. Namanya Arda, seorang yang cuek dan tidak pernah terlalu peduli dengan berbagai hal. Karakter yang ada pada dirinya adalah easy-going, periang, optimis, ekstrovert, merasa selalu harus eksist didepan orang banyak dan narsis. Baginya masa depan adalah mimpi indah, gagasan-gagasan, harapan dan peluang. Ini terlihat dari topik yang dominan ia bicarakan didepan orang-orang. Kebanyakan ia berbicara tentang romantika masa lalu, ide-ide masa depan, gagasan-gagasan, dan mimpi-mimpi.

Seperti disebutkan tadi, sebagai seseorang yang sociable ia memiliki hobi bercerita didepan orang banyak, tapi sayangnya itu bukan hobi satu-satunya. Nyablak, keceplosan, berlaku ceroboh adalah sejumlah hobinya yang lain yang tak jarang menempatkannya dalam masalah. Hal ini disebabkan kebiasaannya, tidak suka berpikir panjang dan berat karena baginya ide itu bukan sesuatu yang boleh dibatasi. Selain hobi diatas ia yang memiliki sense of art yang lumayan juga gemar mendengar musik, membuat lagu, mendesain dan berkreasi dalam media seni.

Berbicara tentang hubungan dengan lawan jenis, anda harus berhati-hati dengannya. Jelalatan, mungkin adalah satu terminologi yang nyaris cocok dengannya karena ia dapat bergaul dengan siapapun. Ia sangat ramah dan sociable, sehingga cenderung gombal. Ini berlaku bukan kepada seseorang saja, tapi kepada siapapun yang menarik perhatiannya. Sense humornya yang overdosis kadang menjadi senjata baginya untuk menarik perhatian, tapi ini biasanya terjadi secara spontan tanpa ia sadari. Untungnya ia masih berlabel ikhwan, sehingga sedikit banyak karakter ini tereduksi. Namun begitu sebenarnya didalam dirinya ada jiwa playboy yang meletup-letup, yang entah kapan, bisa meledak suatu saat.

Berbeda jauh dengan Arda, Ardo adalah sosok seorang yang pemurung, pesimistis, introvert dan peragu. Baginya memikirkan masa depan adalah suatu penyiksaan yang berlarut-larut. Dalam pikirannya, masa depan itu suram, misterius, menyimpan sejuta masalah, dan penuh rintangan. Masa lalu… yang dominan ia ingat tentang masa lalu adalah kesalahan dan tragedi. Ia memikirkan segala hal secara berlarut-larut, setiap kesalahan itu menjadi suatu mimpi buruk yang menghantui dan menyiksa pikirannya. Hal ini membuatnya selalu berusaha meminta maaf terhadap setiap kesalahan atau setiap hal yang baginya membuat orang tidak nyaman.

Rasa bersalah yang menghantuinya membuatnya takut untuk melakukan kesalahan. Ia adalah seorang yang paranoid pada kesalahannya sendiri. Hal ini menimbulkan keraguan dalam dirinya setiap akan mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. Sisi positifnya adalah, ia merupakan sosok yang lebih bijak dan banyak pertimbangan dalam pengambilan keputusan itu. Ia juga banyak meminta saran dari orang di sekitarnya dan cenderung lebih berhati-hati.

Emosinya yang labil terkadang membuatnya pundung dan ngambek. Perasaan-perasaan seperti itu menempatkannya dalam frustasi. Kinerjanya tergantung sekali dengan mood, kadang saat depresi melanda pikirannya bahkan ia tidak ingin melakukan apapun. Mencari kambing hitam adalah hal yang kerapkali nyaris ia lakukan. Biasanya ia dapat segera tersadar dan menahan diri. Tetapi jika emosinya sedang tinggi terkadang yang melayang di pikirannya adalah skenario-skenario pembunuhan, sabotase, kudeta, fitnah dengan diiringi theme song sumpah-serapah. Tapi biasanya hal ini tidak akan sampai keluar dari pikirannya. Baginya, lebih baik melukai perasaannya daripada melukai orang lain.

Bagi Ardo, berada didepan banyak orang asing adalah penyiksaan lainnya. Ia tidak nyaman berada didalam keramaian. Cenderung pasif dan bosan sehingga kadang terlihat berulang kali menguap. Ia lebih suka menyendiri dan menikmati kesendirian itu dalam imajinasinya. Walaupun kerap kali justru hal itu menjebak dirinya mengingat kesalahan-kesalahan masa lalu dan penyesalan, hal itu lebih ia sukai ketimbang harus berbasa-basi didepan orang banyak. Kadang ia merasa butuh berbicara dengan orang lain, namun hal itu sebatas pencurahan keluhan, kekhawatiran, ketakutan/paranoia, dan pengakuan tentang rasa bersalah yang ia rasakan. Salah satu cirinya yang terkadang mengganggu bagi sebagian orang adalah meminta maaf berulang-ulang saat berbicara.

Berbicara tentang lawan jenis… ia bukan orang yang pintar bergaul dengan lawan jenis. Cenderung kaku dan salah tingkah membuatnya lebih memilih menjauhi kontak dengan wanita. Walaupun pikirannya pintar menyembunyikan perasaannya pada mereka, namun perilakunya terkadang tidak dapat menutupi perasaannya. Ia senantiasa gugup didepan orang yang disukainya bahkan dapat membuatnya tidak bersuara sedikitpun atau lidahnya selalu ‘terpeleset’ saat berbicara. Ciri yang paling khas adalah jika ia tiba-tiba ngumpet/bersembunyi dibelakang seseorang atau membelakangi saat ada didekat orang yang ia sukai itu. Baginya, kabur sejauh-jauhnya adalah jurus pamungkas untuk mengatasi rasa gugupnya itu.

 

Refleksinya…

Ini cerita tentang sumber dari ketidak-konsistenan dan emosiku yang sering kali labil. Bukan kondisi yang sebenarnya memang, aku merasa normal-normal saja dan tidak berkepribadian ganda (… sepenuhnya). Cuma mungkin sedikit berefleksi, aku mencoba mensplit diriku menjadi dua karakter yang kontras, namun secara nyata karakter itu memang ada dan riil ada dalam diriku, padahal bertolak belakang satu sama lain. Cara ini kugunakan untuk mengidentifikasikan diriku secara lebih jelas, sebuah upaya untuk mengenal diri pribadi.

Aku mencoba mendata sekian banyak karakter, terutama yang dominan, kemudian ku kelompokkan dalam dua sosok ‘ardian’ yang berbeda. Aku menamakan mereka ‘arda’ dan ‘ardo’ yang masing-masing unik dan punya mindset yang khas satu sama lain. Keberadaan karakter ‘arda’ bagi ‘ardo’ dan sebaliknya adalah seperti penyeimbang yang kupikir ternyata sinergis satu sama lain. Arda yang easy going dan positif membantu dan terbantu oleh Ardo yang memiliki introvert dan negatif tetapi banyak pertimbangan dan lebih bijak.

 

[220308 05:52- nulis apa lagi ya…]

HardBreakHeartDisk… Heartbreaking HardDisk

“Hallo…”

“Ya… Assalamualaikum…”

“eh, waalaikumussalam… ini dengan Ardian ya?”

“Ya… siapa nih?”

“Ini Arul Ian…”

“Oh… kenapa Rul? Mo… ngambil harddisk ya?”

Mati gue! Halah… ni komputer gimana nasibnya? Data-data gue?

“Ngggg… iya nih. Gimana, bisa?”

“Yah… rul, saya minta waktu dua minggu deh. Belum pada di backup nih datanya.”

“Nggg… bisa lebih cepet gak?”

Hiyaaa… aku kelabakan

“O…ok deh, di usahakan dulu Rul, punten ya!”

Suinggg…! Aku langsung puyeng mendadak. Proyek layout lagi numpuk, TA…, data-dataku… gimana nasibnya? Aku yang mulai terlihat (inget yaa… terlihat lho… cuma terlihat) panik segera posting sana-sini, sms sana-sini nyari pinjeman harddisk biar kompie‘ku’ (yang komponennya hampir 100% pinjaman, kecuali mouse butut semata wayang). Dan hasilnya… nol, nggak ada respons. Aku kemudian nanya ke zamzam, nyari solusi ke si empunya CPU. Dia cuma bilang… “Udah, beli aja.”. Haah… tambah pusing, duit dari mana?

Tapi saran itu aku tampung juga akhirnya, aku coba tanya-tanya kerumah, minta duit keorang tua (benar-benar sulit untuk mandiri). Dan ibuku merespons, katanya ada budget sekian ratus deh… untuk keperluan yang urgent dan mendesak itu. Begitu uang turun, aku langsung keliling BEC buat survei harga. Lihat sana… lihat sini… dan aku kembali pusing. Duitnya nggak cukup! Pengen minta lagi, tapi aku berusaha sebisa-bisanya untuk tidak meminta. Tapi toh aku kabari juga ibuku tentang kondisinya (bukan minta lho! Tapi… kalo dikasi sih syukur). Ibuku nggak bisa menambahkan, tapi memberi nasehat cukup berharga untuk sabar dan nggak panik dalam mengambil keputusan. Aku diminta untuk lebih cermat lagi dalam melihat-lihat harga.

Yup… yang terpikir kemudian adalah nyari harddisk second atau link penjual kompie murah via teman. Dan tujuan pertamaku adalah Rileks! Aku sebenarnya nyaris nggak pernah lagi nyentuh komunitas ini, terutama setelah mereka kena musibah nyaris dibredel rektorat karena ulah seorang seorang mahasiswa tolol. Oleh manajemennya, fasilitas forum rileks sempat dibatasi sementara, membuat aku malas untuk mengaksesnya. Cuman karena kebutuhan, untuk pertama kalinya kucoba juga cara ini. Liat-liat forum jual-beli, kategori komputer beberapa thread yang aktif kulihat kebanyakan jualan MoBo, RAM ato paketan, cuman sedikit yang menawarkan harddisk. Aku nggak berharap banyak mengingat budgetku kalau untuk beli baru paling hanya cukup untuk dapet 80 Gb. But setelah liat dan posting dibeberapa thread aku coba untuk ikut nawar-nawar yang 120 Gb dan… dapet.

Tapi blo’onnya aku nggak liat spesifikasinya secara detail dan langsung mengiyakan saja. Aku baru nyadar kalo yang aku beli itu ternyata harddisk SATA padahal MoBo dirumah setelah kuperiksa hanya mensupport ATA. Aku sempet nyesel juga karena nggak ngecek lagi. Tapi kemudian aku dapet intuisi kalo dipasaran kemungkinan ada juga converter untuk menghubungkan SATA ke ATA, mengingat di indonesia ini masih banyak mafia kompie rekondisi. Akhirnya kucoba juga untuk tanya sana-sini ke yang lebih ngerti. Sayangnya yang kutanyai nggak ada yang ngerti, tapi sempat memberiku saran untuk pergi ke Jaya Plaza di jalan Ahmad Yani.

Disinilah kebodohan selanjutnya terjadi, karakter Arda tiba-tiba keluar berikut kecerobohannya. Aku keliling kesana kemari hingga sampai disebuah toko asesoris. Dan begitu sampai di sebuah toko dan nemu apa yang kucari eh… tanpa nawar-nawar lagi langsung aja tuh converter berpindah tangan. Melayang lah 50ribu terakhirku… diiringi gerutuan Ardo dalam hati. Semalaman itu betenya masih kerasa pisan. Walaupun akhirnya tuh harddisk bisa jalan juga setelah berkali-kali nyalain-gak kedetect-matiin-benerin colokan-booting lagi-setup bios-gak kedetect-booting deui dst.dst…! Setelah install-install yang selesai jam 1.30 pagi gw tepar. Parah tuh harddisk… make my heard broken…!

 

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

& Komentar

  • [...] hasrat untuk nyoba ubuntu ini udah ada sejak berbulan-bulan lalu. Bahkan begitu beli harddisk sendiri, hal pertama yang aku lakukan adalah belajar bermain-main dengan partisi agar komputer bisa [...]

    • [...] windows).Sebenernya hasrat untuk nyoba ubuntu ini udah ada sejak berbulan-bulan lalu. Bahkan begitu beli harddisk sendiri, hal pertama yang aku lakukan adalah belajar bermain-main dengan partisi agar komputer bisa [...]

      • At 2008.11.19 18:14, Harmony… | Ardee’est Thing in My Life said:

        [...] sebuah jitakan secara sukses dan meyakinkan mendarat di kepalaku… ternyata ARDA ~si Kepribadianku yang terlalu easy going [...]

        (Required)
        (Required, will not be published)