Bungkam…
Bungkam
Pertemuan di Lift
Dan kejadian itu segera berlalu begitu saja. Sebuah perjumpaan kering dan begitu beku. Hanya menyisakan tanya berkepanjangan dalam benakku. Kuhitung-hitung kurang lebih kira-kira 15 menit total waktunya… sejak awal aku berpapasan dengannya di pintu lift itu hingga akhirnya kami benar-benar berpisah.
Lima menit sejak menunggu di lantai 1 hingga berpisah dilantai 6 PAU. Lima menit ketika kami menunggu untuk turun kembali hingga terpisah di lantai 1. Lima menit menunggu dipintu lift SITH hingga akhirnya kami benar-benar berpisah dilantai 3. Dan tidak sepatah kata pun terucap, yang ada hanyalah diam dari hati yang bisu.
Kami seakan tidak saling mengenal sedikitpun walaupun berdiri berdampingan sejak di lift pertama hingga lift ketiga. Bahkan untuk sekedar berbasa-basi mengenai tugas akhir kami masing-masing. Bahkan saat hanya ada kami berdua didalam lift itu. Jarak yang hanya beberapa sentimeter itu seakan memisahkan jarak kami bermil-mil jauhnya. Seakan dinding tebal yang menyekat kami dalam ruang sempit itu.
Kurasakan detik-detik berjalan perlahan membawa memoriku ke masa tiga tahun yang lalu. Masa-masa yang memaksaku membuang setiap jengkal jejak yang tersisa tentang nama itu dari rongga pikiranku. Masa-masa dimana egoku yang tak terkontrol dengan sukses merobek setiap jengkal fondasi yang dibangun bertahun-tahun dibawah panji ini. Masa-masa penuh kegamangan terselubung yang tetap menyisakan pertanyaan yang sama bertahun-tahun kemudian. Memori-memori itu kembali menyesakkan rongga dadaku. Seakan-akan itu adalah mimpi buruk yang menghantuiku berabad-abad. Aku seperti dikejar-kejar oleh kesalahan meskipun akal sehatku tidak ingin sedikitpun mengakuinya sebagai sebuah kesalahan.
Sebuah siang di awal tahun itu
“Akh, ana mendapat kabar bahwa si fulanah bla bla bla… untuk sementara mohon di-cut dulu koordinasi dengan beliau.” ujar sang Teteh didepan.
Aku hanya terbengong-bengong setengah tidak percaya pada apa yang kudengar dari mas’ulku barusan. “Dia…?” tanya pikiranku. Akhwat yang paling rapi jilbabnya diantara teman-temanku yang lain? Dia yang paling rajin memberikan taushiyah pada kami? Dia… yang membuatku terkagum-kagum dengan aktivitasnya yang seakan-akan tak habis-habisnya? Pertanyaan itu menyesakkan rongga kepalaku beberapa saat, sebelum dengan mantap akhirnya…
“InsyaAllah… sementara ini beliau tidak akan saya libatkan dalam agenda kita.”
dan jawaban itu tetap menyisakan tanya bagiku.
Sejak hari itu aku semakin mencoba menjaga jarak dengannya… walaupun kilat-kilat bayangan itu masih saja mencabik-cabik hatiku yang sudah terlanjur kagum dengan sosoknya. Meski begitu, akal sehat dan ketaatan yang tersisa masih memberikan kekuatan bagiku untuk menguras perlahan ingatan-ingatan tentangnya. Keselamatan lokomotif ini masih jauh lebih penting dibandingkan bisikan-bisikan ego yang terus menghantuiku. Dan akhirnya saat-saat sulit itu selesai juga seiring dengan semakin jarangnya interaksi antara kami.
Namun siang tadi pertanyaan itu kembali hadir… (Bersambung)
Traktir aku klo kmu suka artikel ini...


















Wall RSS Feed
& Komentar
haha,, =))
jatuh cintrong nih boss??
btw, blognya bagus, cukup ‘berisi’ dan menghibur,,
ayo, terus nulis boss!!
oh… tentu… itu mah kudu. Nulisnya maksudnya.. anyway thks udah mampir…
siapa cuuuuuh?!