Langit, Izinkan Aku Menemukan Pelangiku

Berikan aku jeruk manis Ya Allah…

By Ardian Perdana Putra • Maret 29, 2008 • Category: biografi, curhat, renungan |

Berikan aku jeruk manis Ya Allah…

[Senin, 24 Maret 2008; Akankah jeruk asem ini mendapatkan jeruk manis?]

Salah satu jargon yang sukses mengorbit lewat iklan adalah “Jeruk makan jeruk”. Istilah ini jadi bahasa ringan untuk mengungkapkan hubungan erat dari dua hal yang memiliki latarbelakang sama. Secara lebih spesifik, istilah ini digunakan sebagai sindiran bagi pasangan yang keduanya memiliki latar belakang sama, entah itu sealmamater, sedaerah, seaktivitas atau selingkungan kerja. Bagi sebagian orang, orang yang sudah kita kenal atau memiliki latar belakang sama mungkin lebih mudah untuk klop dan nyambung dengan kultur serta perilaku kita.

Sama sekali nggak nyambung dengan paragraf diatas, beberapa hari yang lalu aku sempet bingung untuk memberikan undangan konser Debu. Aku sudah menggadang-gadang siapa saja yang ingin aku undang dengan sebundel undangan itu. Hingga H-2 belum semua undangan tersampaikan. Masih ada sebiji undangan yang aku ragu untuk memberikannya kepada yang bersangkutan. Undangan itupun masih tersimpan rapi didalam tas slempang bututku.

[…]

Aku dag dig dug…

Nggak kukira akan ketemu dia disini. Aku memang butuh menyampaikan sesuatu, tapi nggak nyangka akan disini. Undangan konser itu masih kusimpan saja ditasku didalam lab. Serba salah dan bingung… tapi tenang saja… bukan karena dia. Aku bingung karena sebentar lagi harusnya aku mulai pengamatan 24 jam dan ternyata Rifan belum juga muncul batang hidungnya. Akhirnya aku nongkrong di labkom, berencana liat-liat harddisk second lagi di forum rileks dan posting di blog.

Tadi pagi ada kabar duka dari Ani teman seangkatanku di Husnul Khotimah, ayahnya, Ustadz Muslim Zainuddin wafat. Teman-teman dari 2004 sudah sempat bertakziah kerumahnya. Aku sendiri karena masih harus ngedon di lab hingga besok siang nggak bisa datang. Dan… deg… aku langsung kaku melihat kelebat bayangan itu, secepat kilat menyembunyikan mukaku dibelakang pintu. Kusutku masih berlanjut hingga akhirnya kuputuskan balik ke lab walau masih bingung antara akan memulai pengamatan atau membatalkan saja rencana pengamatan ini. Aku hampir-hampir menyerah dan memutuskan akan mengulang pengamatan saja beberapa hari lagi. Tapi tiba-tiba aku ingat dengan jangka waktu yang tinggal sembilan pekan lagi. “Aku nggak bisa kabur! Harus sekarang!” kataku pada diri sendiri.

Sedikit gontai kutinggalkan labkom sambil meng-SMS Rifan. Sebenarnya aku sudah mulai pasrah, jika dia nggak datangpun ya… sudahlah, kurva tumbuh ini kayaknya terpaksa kukerjakan sendirian seperti sebelumnya. Alhamdulillah, ternyata akhirnya Rifan datang juga walaupun kemudian pengamatan kami molor setengah jam dari jadwal. Sambil memulai kerja tiba-tiba pikiranku melayang pada selembar undangan yang masih tersimpan rapi didalam tasku.

Walaupun aku masih merasa memberikan undangan konser itu masih tidak ada masalah, aku mendadak jadi berpikir tentang impact dan side effectnya. Gimanapun si penerima berpotensi untuk salah pengertian kalo aku memberikan undangan tersebut secara personal. Padahal sebenarnya aku sama sekali nggak berharap dia datang sendirian, mungkin bagus juga kalo ia datang dengan ‘memborong’ keluarga plus orang sekomplek rumahnya untuk nonton bareng konser itu. Tapi itu kan hanya di pikiranku… aku kemudian menyadari resiko besarnya.

Sambil bekerja tadi akhirnya ku berpikir ini sama saja memetik buah sebelum waktunya. Hal yang kusadari nggak ahsan adalah, ini dapat menjadi awal dari semakin banyaknya kontak sebelum proses resminya berjalan. Itupun kalau ternyata nama itulah yang bakal nangkring di kertas ajaib itu. Lha… kalo nggak? Berarti ada dua kemungkinan, [1] aku terima apa adanya si kertas ajaib itu atau [2] aku tolak, lalu segera melakukan aksi tembak-menembak untuk yang ketiga kalinya. Dan tiba-tiba…

“Kang, kayaknya kita gagal deh.” Nggak nyadar ternyata si Rifan udah ada di sampingku yang lagi sibuk cell counting didepan mikroskop. Aku menoleh. Aduh… bodoh! Hitunganku sudah sampe dimana tadi? Kacau deh… counting-nya ngulang lagi!

“Hah… kenapa Fan?” tanyaku puyeng karena harus ngulang penghitungan cell lagi.

“Kita nggak ngukur pH lho… padahal kata si Anu kalo bikin kurva tumbuh pH-nya dihitung juga sebelum pengamatan.

“Wah… kalo kata saya sih mendingan dilanjutin aja dulu Fan. Kata si TopX (taufik, Mikrobiologi ’04) kalo ada yang salah-salah mendingan pengamatannya tetep dilanjutin sampe selesai. Ntar yang salah-salah itu jadi catetan…” ujarku sambil kembali melotot didepan mikroskop.

“Iya, emang begitu kang, tapi besok banyak tugas, jadi kayaknya nggak jadi begadang deh.” Rifan memotong ucapanku.

Eh… lho… lho… lho… waduh! Aku baru nyadar bahwa ternyata aku pun salah melakukan pengamatan! Bodohnya lagi, kesalahan sepele tetapi efeknya tragis. Aku salah pilih kotak pengamatan didalam counting chamber.

Sedikit teori, Hemasitometer yang aku gunakan merupakan alat standar untuk menghitung jumlah sel terlarut. Didalamnya terdapat area 3 x 3 yang masing masing sudutnya terbagi menjadi kotak 4 x 4. Kotak yang ada ditengah area 3 x 3 ini dibagi menjadi kotak-kotak 5 x 5.

Aku sebenarnya tahu bahwa menggunakan alat ini adalah dengan memilih 5 kotak pengamatan yang letaknya 4 kotak disudut-sudut plus satu di tengah. Masalahnya kotak yang kupilih ternyata salah sodara-sodara! Harusnya aku memilih lima kotak tersebut diarea 5 x 5, tapi sejak tadi tanpa sadar aku memilih 5 kotak di area yang lebih besar yaitu 3 x 3. Aku tetap menghitung, tapi mulai pundung.

Aku kemudian melihat jam, ternyata sudah lewat dua jam dari waktu start pengamatan. Ini berarti saat ini harusnya pengamatan kedua sudah harus berjalan. Hah… kacau deh. Akhirnya aku menyerah.

“Fan, ya udah… kita udahan deh.” Ujarku sambil mulai membereskan mikroskop.

[…]

 

Hmm… si yang-bersangkutan-itu sudah pulang sejak tadi. Tapi secara mantep akhirnya aku berpikir untuk mengurungkan niat untuk memberikan undangan itu kepadanya. Kupikir harusnya aku memang lebih bersabar dan sebaiknya berfokus pada TA-ku dulu. Toh masih ada sembilan pekan lagi untuk berbenah diri.

Ibarat jeruk ato mangga, kalo dipetik sebelum waktunya, rasanya nggak akan terlalu manis. Walaupun nantinya akhirnya matang juga, misalnya dengan di karbit, rasanya tetap tidak akan semanis buah yang dipetik tepat pada saat matangnya dipohon. Kalau aku ingin semuanya berakhir secara fantastik, harusnya aku bisa lebih sabar. Pasti ada rencana yang lebih baik dari Allah.

Saatnya mengambil teladan dari sang nabi Zakariya AS yang tidak berputus asa walaupun telah bertahun-tahun memohon seorang keturunan yang akan menjadi penerus dakwahnya.

“Qaala inni wahanal ‘azmu minni wasyta’alarra’su syaiban wa lam akun bi duaa’ika rabbi syakiyyan

 Ia Berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.

(Maryam:4)

 

Dan Allah pun memberikan jawabannya yang fantastik:

 

“… Inna Nubasysyiruka bi ghulaamin ismuhu yahya, lam naj’allahu min qablu samiyyan

  Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia

(Maryam: 7)

“…, wa aatainahu hukman shabiyyan, Wa hanaanan milladunna wa zakaah, Wakaana taqiyyan. Barran bi waalidaihi, wa lam yakun jabbaran asiyyan

  dan kami berikan kepadanya hikmah[900] selagi ia masih kanak-kanak.  Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa, Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

(Maryam: 12-14)

 

If you see my blog content is valuable, please consider to treat me

1 Komentar

  • At 2008.04.01 03:28, dila said:

    wah kalo gw beda lagi pasti doa nya, berikan hamba tiket debu gratis ya Allah :D

    (Required)
    (Required, will not be published)

    « Kendala bahasa | Home | Pesan moral hari ini »