Kendala bahasa

Sabtu, Maret 29, 2008 9:35
Posted in category biografi, refleksi

Kendala bahasa

Ini malam kedua aku nginep Dershane (asrama) Pribadi Advance School. Kemarin karena ada konser Debu, sekarang karena diajak Kamil. Tiba-tiba tertarik ngomongin masalah bahasa. Pas konser kemarin aku baru tahu kalo orang Turki yang nangkring di Bandung ternyata cukup banyak. Entah mereka dari Pribadi ataupun kerja ditempat lain. Beberapa penghuni asrama ini adalah orang Turki dengan skill bahasa yang beragam. Fenomena yang aku lihat, ternyata nggak semua orang Turki disini bisa bahasa Indonesia, ada sebagian masih bisa berkomunikasi berbahasa Inggris tetapi uniknya ada juga yang sama sekali nggak bisa berbahasa selain bahasa asli mereka.

Aku sempat mengamati gaya bicara orang Turki yang agak sengau dan suaranya melayang-layang tanpa penekanan. Hal ini kontras dengan bahasa bicara orang kita yang kaya dengan ekspresi dan penekanan, apalagi bahasa daerah seperti sunda dan batak. Bahkan saat bicara bahasa Indonesia pun, hal ini masih terbawa-bawa. Walaupun pake bahasa Indonesia, aku kadang nggak terlalu ‘ngeh’ sama apa yang mereka bicarakan. Disini kemudian aku melihat bahwa membaca gesture ternyata cukup membantu komunikasi. Ada beberapa hal yang bisa kupahami justru dari gerakan tubuh, bukan dari ucapan mereka.

Kemarin malam aku membantu Ghani bikin nasi goreng ayam. Rada aneh juga masak nasi goreng ditengah malam, saat itu sudah jam 12 lewat. Ternyata bukan cuma aku yang belum makan setelah konser itu. Nasi goreng ayam ini bukan masakan sulit, ayamnya direbus setengah matang sama Ghani, aku yang bikin nasi gorengnya. Bumbu yang dipakai adalah bumbu instan, cabe rawit dan bawang bombay plus ditambah telur sebutir. Si Kamil nggak ikut makan, hanya Aku, Ghani dan Hasan yang makan.

Hasan ini orang Turki yang nyaris-nyaris nggak bisa sama sekali bahasa Indonesia. Bahasa Inggrisnya pun belepotan. Kultur di dershane, kalo kita makan bareng biasanya makanannya ditaro di nampan besar terus disantap bersama sambil ngariung. Aku geli juga dengan cara kami makan bareng. Dengan bahasa Turki si Hasan menyuruhku mulai makan, aku ngangguk aja. Pas nasi di nampan sudah habis dia dengan sopan memberi isyarat menawarkan nambah lagi, aku ngangguk lagi dan dia meresponnya dengan mengambil nasi dari wajan yang ada disamping nampan. Akhirnya sesi makan selesai, dia lalu bicara ke Ghani dengan bahasa Turki. Aku hanya melihat gesturenya saja, seperti mengucapkan terima kasih. Tapi lalu Ghani nunjuk ke aku.

“Dia tuh yang masak.”

Si Hasan mengucapkan kembali hal yang sama kearahku. Aku ngangguk aja sambil tersenyum bengong.

“bla bla bla itu… secara harfiah artinya bli bli bli, maksudnya terimakasih sudah dimasakin” kata Ghani menjelaskan.

Oh begitu ya… aku ngangguk lagi, walaupun apa yang dibicarakan ghani nggak nempel di otakku.

Ada salah satu dosen nyentrik di biologi, namanya pak Gde Suantika. Satu hal yang keren dari beliau adalah jika mengajar ia akan banyak memberi cerita dan pesan moral tetapi dengan gaya bercanda. Di kuliah terakhir, hari kamis kemarin satu bahasan ngalor-ngidul di kuliah beliau ini adalah tentang kendala komunikasi. Kata beliau kendala komunikasi itu sangat jauh lebih kompleks dibanding hanya sekedar perbedaan bahasa. Kendala komunikasi justru lebih banyak muncul disebabkan sikap apriori (adanya persepsi negatif yang tidak berdasar/ tanpa alasan tentang sesuatu hal) kita terhadap lawan bicara kita.

Pak Gde mencontohkan tentang Voodoo di Haiti. Ada perbedaan mendasar antara agama samawi (Kristen, Islam, Yahudi) tentang kematian dengan bagaimana orang Haiti memandang kematian seseorang. Bagi kita yang percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, kematian seseorang hanyalah sebuah pintu menuju perjalanan yang lain. Sedangkan bagi orang Haiti, kematian adalah perpisahan untuk selamanya bagi orang yang dicintai. Perpisahan itu sangat menyakitkan bagi mereka, sehingga mereka menganggap voodoo sebagai solusi untuk membuat mereka dapat bertemu dengan orang yang mereka cintai tersebut.

Misalnya ada seorang wartawan datang ke Haiti untuk mewawancarai orang disana tentang Voodoo. Tetapi didalam pikirannya ia menganggap bahwa setiap orang haiti bisa voodoo dan mereka bisa seenaknya mem-voodoo setiap orang. Bisa jadi sejak dari bandara, yang ada di pikirannya hanyalah paranoia dan ketakutan setengah mati. Mungkin saja akhirnya tidak ada pertanyaan yang berbobot yang ia keluarkan karena takut jika salah bertanya nasibnya akan seperti mayat-mayat bertatapan kosong produksi para dukun. Stigma diatas secara tidak langsung membatasi komunikasi dengan lawan bicara, dan hal itu jauh lebih menyulitkan dibandingkan kendala bahasa sendiri.

Aku nyaris-nyaris tidak berbicara secara lisan dengan orang-orang Turki di dershane. Tapi komunikasi kami lumayan nyambung dengan bahasa tubuh seperti anggukan, tunjuk sana-tunjuk sini atau isyarat-isyarat lainnya. Singkatnya, kesimpulanku bahasa tarzan alias gesture lebih efektif ketimbang bahasa lisan yang belepotan. Namun begitu tentunya jauh lebih baik jika komunikasi lisan kita di tingkatkan dengan belajar bahasa asing.

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

Tidak ada Komentar

(Required)
(Required, will not be published)