Surat cinta… (1)
Rabu, Februari 13, 2008 9:28Surat cinta… (1)
[Markaz, 13 Feb 2008; “Kaaf haa yaa ‘ainn shaad…”]
Bertahun-tahun keluar dari pesantren, jarang-jarang aku nangis karena ayat Al Quran. Walaupun aku tahu artinya sekalipun, biasanya hanya selewat saja ada getaran halus. Tapi ada rangkaian ayat yang membuat aku terguncang sampai nggak bisa sedikitpun membendung airmata malam itu. Berminggu-minggu yang lalu, waktu tilawahku sampai pada ayat tentang dakwah nabi Ibrahim kepada ayahnya. Ayat itu terangkai indah dengan bahasa arab yang simpel dan mudah dicerna, berirama dan dengan begitu gamblang menggambarkan cara yang sopan tetapi tegas dari Ibrahim AS saat mengajak ayahnya meninggalkan berhala.
Aku insya Allah tau isi dari ayat itu, tapi untuk lebih jelas, aku coba lihat terjemahannya yang kurang lebih begini:
“… (41) Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (42) Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? (43) Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (44) Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (45) Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (46) Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”…” [Maryam: 41-46]
Memang lebih gereget baca ayatnya langsung, karena tuturan kata Nabi Ibrahim dengan bahasa arab yang halus pisan bisa lebih jelas kerasa. Baru di ayat 41 aku langsung berhenti… tiba-tiba aku inget ayah!
Dan ayat itu begitu keras menyeretku dalam renungan sekilas… tutur bahasa Nabi Ibrahim membuat aku malu. Ibrahim saat itu masih amat belia, usianya saat itu masih belasan tahun. Namun dengan bahasa yang gamblang, to the point namun amat-amat sopan ia mengajak ayahnya untuk mencampakkan berhala. Ayahku memang seorang muslim, namun dulu ada saat dimana beliau tidak menjalankan kewajiban shalat lima waktu dan hingga kini ayah masih merokok. Ayahku masih jauh dari sentuhan nilai-nilai islam seperti yang kurasakan di kampus ini, apalagi seperti semasa dipesantren dulu.
Bagaimana denganku…? Sampai hari ini, kalimat untuk sekedar mengajak ayah untuk shalat pun tidak tidak pernah keluar dari mulutku… sedikit pun, apalagi mengajak ayah untuk berhenti merokok… Bahkan pada usia yang jauh lebih tua dari Ibrahim kala itu… 24 tahun! Terngiang-ngiang percakapanku dengan ust. Mushalli saat baru kuketahui bahwa beliau teman seangkatan ayah dan ibuku semasa kuliah. “Kedua orangtuamu dulu begitu dekat dengan masjid kampus…”. Deg… kata-kata itu semakin menohok… membawaku pada kesimpulan… bahwa lepasnya hidayah adalah sebuah keniscayaan semudah proses datangnya.
Ya Allah… durhakanya aku! Apa artinya embel-embel “alumni Husnul Khotimah”? Apa artinya halaqah bertahun-tahun jika kita tidak bisa mengajak keluarga terdekat kita… orang tua kita… untuk merasakan indahnya islam seperti kita rasakan? Bukankah mereka adalah orang yang paling kita cintai? Lalu kemana cinta itu?
Halaman keempat dari surat Maryam kubaca dengan terbata-bata, di selingi tangis tak tertahan. Setiap ayat membuatku terguncang, dan berulang kali kuulang-ulang kembali meresapi kata perkata pelajaran yang diberikan Ibrahim muda tentang arti sebuah tahapan tarbiyah… dakwah keluarga. Detik itu, mendadak aku merasa tidak siap… mengingat tilawahku yang amburadul… mengingat QL ku yang seadanya… mengingat ma’tsurat dan dzikir yang begitu jarang menghadirkan ruh… tetapi kemudian aku pun terpaku pada kenyataan bahwa waktu akan terus berjalan… dan akhirnya tidak ada satupun yang mampu memprediksi kapan ajal menjemput. Entah sedetik… semenit… sejam… atau seratus tahun lagi? Apakah aku… atau ayah… dan ibuku… yang lebih dulu dijemput? Semua begitu misterius… Dan aku merasa tak sanggup untuk menjalaninya sendirian…
Rabbighfirli wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiira… Amin.
Wassalam….
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku… berlapis pagar duri disekitarku…
Tak satu pun yang mampu menghalangiku… menyala di dalam hatiku…
Hari ini, hari milikku… Juga esok masih terbentang…
Dan mentari ‘kan tetap menyala… disini, diurat darahku…
disini didalam hatiku…
[Mentari, Abah Iwan Abdurrahman]





hhmmm… benar-benar keluar dari hati
Iya nih… aku nulisnya aja sampe nangis… tadi pagi.