Oh… begini ya…

Senin, Februari 4, 2008 13:24
Posted in category refleksi

Oh… begini ya…

[Markaz, 1-4  Feb 2008; “Tinggal 2 bulan, aku belum ber-KTP Bandung…”]

 Anak-anak Pentagon

Waduh… kalo tiga hari di rumah sakit waktu itu sudah membongkar banyak hal tentang kami bertiga (ihsan-dwi-aku), gimana dengan anak-anak Pentagon? Dari rahasia hati sampe nama MR pun bisa bocor dengan mudah disana, untung aku nggak jadi masuk ke sana dulu.

[kamis, 31 Januari 2008]

Untuk pertama kalinya aku ikut secara intens dalam panitia nikahan seorang rekan. Mmm… gak deng… tiga kali, setelah dulu di Nikahan Akh Yudi dan Sugeng. Tapi untuk kali ini aku lebih intens dibandingkan sebelumnya. Lagi-lagi menjadi seksi dokumentasi bagian handycam. Seru juga sih, mengingat yang kugunakan adalah kameranya Akh Brian yang masih produksi jepang. Hurufnya hampir nggak ada yang cukup ‘manusiawi’ untuk mata orang Indonesia. All the instructions written in kanji, membuatku sempat butuh di‘briefing khusus’ oleh beliau untuk sekedar menggunakannya.

Kusebut lebih intens karena aku bisa dengan jelas melihat lebih dekat bagaimana dua keluarga CP (Calon Penganten) berinteraksi satu sama lain. Baik keluarga Akh Haldi maupun Teh Ana sudah sama-sama dalam kondisi merendahkan egonya untuk mencari titik temu terbaik bagi kedua belah pihak. Di rapat terakhir presentasi panitia ke pihak keluarga tadi malam, masing-masing keluarga kulihat sudah akrab dan saling pengertian satu sama lain. Dan satu hal lagi, mereka sudah sepenuhnya tsiqah dengan apapun yang disiapkan panitia. Aku kemudian berpikir juga kalau saat itu aku berada dalam posisi Akh Haldi saat itu.

Aku jadi ingat saat ibuku menasehati saat pertama kalinya aku berbicara tentang ‘N’ lebih dari dua tahun lalu. Saat menikah, pada hakikatnya kita tidak sedang ‘menikahi’ calon kita saja, tetapi sebenarnya kita akan ‘menikahi’ seluruh keluarga, kerabat, berikut masa lalunya. Berbicara tentang ‘N’ ternyata jauh lebih rumit dari sekedar satu hari prosesinya sendiri. Berbicara tentang ‘N’ berarti berbicara tentang kerelaan hati untuk menerima seutuhnya baik-buruk, plus-minus, serta seluruh hal yang melekat pada diri si calon. Entah mengapa, aku jadi merasa ter’segel’ oleh halaman pertama surat An-Nur. Masih cukup pantaskah?

Hari kamis, panitia nikahan Akh Haldi harus presentasi kepada keluarga kedua mempelai. Saat berangkat, didalam mobil kudengan ada aksi saling sindir antara dua makhluk pentagon. Omongannya gak lain (lagi-lagi) adalah seputar lawan jenis. Saat akan tiba di rumah teh Ana, akhirnya ada satu nama yang tiba-tiba terucap dari salah satu dari mereka dalam rangka menyindir rekannya itu. Disambut ‘haha…hihi…’ dari orang-orang yang tahu, membuatku melongo sendirian. Lagi-lagi aku kembali bengong saat tiba-tiba saja Haldi ngomong

“Tuh anak berdua rival-rivalan lho…” sambil menunjuk aku dan seorang ikhwan yang disindir tadi. Aku baru ‘ngeh’ maksudnya apa.

Haldi memang sempat kumintai bantuan untuk jadi mediator ke seorang akhwat. Nama itu sempat jadi perhatianku beberapa waktu lalu, akhwat yang nggak pernah ada berkomunikasi apalagi satu aktivitas denganku. Aku cuma sekilas mendengar tentang beliau dari cerita seorang akhwat. Oh.. si Fulanah begini lho… dia itu alumni ini lho… sekarang aktivitasnya di… bla bla bla. Pernah ada seorang ikhwan yang kebetulan satu aktivitas mengingatkan bahwa beliau cukup ‘menokoh’ diwilayah aktivitasnya.

“wah antum punya pesaing berat!” katanya kemudian.

Aku sebenarnya tidak seberapa ngotot ke siapapun, toh betul juga kata Dwi

“Akhwat itu masih banyak diluar sana… Ar.”

Ah… itu kan sudah lebih dari seminggu yang lalu. Aku saat ini justru sedang berpikir ulang untuk mem-pending masalah ‘proses-proses’an ini hingga satu dua bulan kedepan. Aku harus berpikir lagi biar TAku bisa lebih rasional. Sepertinya butuh lebih banyak studi literatur lagi sebelum mulai bikin kurtum, karena kurtum sendiri sebenarnya sudah masuk tahap menuju optimasi. The problem is… aku baru nyadar kalo aku sendiri bingung tentang apa yang sedang ku ‘optimasi’.

 

Special day for the couple…

[Ahad, 3 Februari 2008]

Aku dan panitia yang lain sudah mengazamkan untuk memberikan kenangan terbaik buat kedua mempelai, maka dari itu aku berusaha untuk mendokumentasikan acara seperfect mungkin. Aku berharap itu bisa menjadi kompensasi dari sedikitnya jumlah narasumber yang ku-shoot untuk memberi pesan bagi kedua mempelai seminggu kebelakang. Aku dan rombongan ikhwan janjian di Istiqlal pukul 5:30, untungnya aku masih sempet QL sebelum subuh, jadi nggak kesiangan.

Ternyata harus kuakui, hatiku masih belum ‘plong’ seratus persen. Aku baru dapat informasi lengkap soal ‘kasak-kusuk’ minggu sebelumnya dari MRku. Pulang halaqah, aku disuruh nebeng dimotor beliau, yang kemudian ternyata berlanjut dengan cerita disepanjang perjalanan (hehehe… klise sekali, seperti MRku yang sebelumnya juga). Sekarang aku baru ngeh, jika tidak salah menyimpulkan, si Akhwat sebenarnya tidak ada masalah dengan ‘siapa aku’nya, tapi masalah waktunya aja yang nggak tepat (atau itu cuma sekedar hiburan aja ya?). Makanya, malam tadi aku curhat lagi…

“Please… ya Allah, please… give me one more chance… Give me a perfect ending for the story…”

Herannya anak-anak pentagon datang telat setengah jam, padahal rumah mereka cuma beberapa puluh meter dari Istiqlal. Insya Allah, pagi itu ‘menunggu’ jadi pekerjaan yang menyenangkan buatku. Saatnya recovery ruhiyah bung!

Untuk kedua kalinya aku kebagian ngeshoot akad nikah. Good…! Aku dapet angel yang bagus, tapi cadangan baterai yang menipis membuatku harus berhemat-hemat memilih momen yang harus kuabadikan. Karena charger pun kutinggal dirumah, akhirnya handycam pak Brian ini tidak digunakan untuk mengabadikan resepsi. Sisa batere dan kaset difokuskan untuk merekam pesan-pesan dari rekan akh Haldi dan teh Anna.

Alhamdulillah, hingga akhir acara banyak rekan-rekan mahasiswa dan alumni yang sudah berhasil ditodong untuk memberikan komentar. Tapi memang aku agak sedikit jengkel, alumni tua jarang yang mau di shoot. Padahal banyak dari mereka yang sebenarnya seangkatan sama akh Haldi. Aku ngebayangin kalo itu terjadi pada diriku, kalo teman seangkatan atau seaktivitasku sampe nggak punya niat memberikan hadiah walau cuma sepotong pesan, pasti aku kecewa sekali. Ya… minimal alhamdulillah masih pada datang lah… kebayang pundungnya kalo anak 2003 nggak pada datang di moment yang harapannya (harapannya lho… harapannya) cuma terjadi sekali seumur hidup.

Fiuh… selesai juga acara hari itu dengan sukses. Salut buat kepada semua panitia yang sudah memberikan effort terbaiknya. Semoga semua diganjar dengan rumah mewah di surga sesuai yang dijanjikan dalam hadits (kamil tuh yang inget… aku malah nggak tau redaksional persisnya). Memang, kekurangan sih pasti ada… banget… tapi ya itu insyaAllah udah senampol-nampolnya kesan yang bisa dikasih bagi kedua pasangan dan keluarganya. Kita para panitia semua insya Allah punya mimpi yang sama, bahwa suatu saat kitapun bisa memperoleh moment yang sama indahnya atau bahkan (insya Allah) lebih baik, jika saat itu datang.

The question is… kapan ya saat itu datang buat ku? Bulan depankah? Setengah tahunkah? Tiga tahun lagikah? 10 tahun lagikah? Akhirnya memang tidak ada diantara kita yang benar-benar tahu dengan ketentuan dalam lauhul mahfudz…

 

Wassalam….

Sunset’s Admirer

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

& Komentar

  • At 2008.02.15 17:28, Andri said:

    Lagi liat - liat blog. Hmmm…Menarik juga. Ternyata ada juga ya tulisan yang membahas tentang pentagon, tapi kayaknya pembahasannya kurang mendalam, siapa tahu berguna untuk anak2 yang mau masuk pentagon agar jangan terjebak seperti saya he..he…Tapi lumayan tinggal disitu buat pendewasaan. Ditunggu tulisan selanjutnya!

    Wassalam

    Alumni Pentagon

    • At 2008.02.17 12:57, admin said:

      hahaha… waduh jadi malu nih. Saya mah pengamat… bukan orang dalemnya pentagon, jadi nggak tau banget soal “jeroannya” anak pentagon. Hehe…
      Yang pasti mah udah jauh berubah… kalo dulu mah dipake menggagas reformasi… sekarang mah kebanyakan menggagas acara resepsi… hehehe

      (Required)
      (Required, will not be published)