Be A Diamond or A Charcoal?

Jumat, Februari 15, 2008 13:18
Posted in category mahasiswa, renungan, tarbiyah

Be A Diamond or A Charcoal?

[Markaz, 13 Feb 2008; “I pray here and smile for U… I tell U that I’ll wait for U]

[13-02-08; 17:05; “D’Cinnamons” ON]

Orang menjadi kuat karena ditempa oleh lingkungan yang keras dan terasing! Setidaknya itu yang terlintas dibenakku. Tetapi apa iya benar begitu? Kalau memang begitu, mengapa kita lebih terpuruk saat dijajah jepang ketimbang VOC? Bukankah orang Nippon lebih kejam daripada Kompeni? Tiba-tiba aku ingat kuliah genetika.

Yes, maybe the environment makes a significance effect to the people inside it. It can drive our attitude, our response, our sensitivity and mainly our mindset. But there is another factor that control us as well as the environment, Our genetic potential. Each affecting the other and we can assume both of them as “internal vs external factor”.

Our suffering when Nippon take over this country were approximately same with their suffering before Meiji’s Restoration or after atomic bomb hit Hiroshima and Nagasaki. As the Looser of world war, japan was economico-politically buried. Every single infrastructure were affected, but not with their mentality. Knowing with high-effort social culture and never-give-up spirit known as Bushido, I see analogically these mentality as the ‘genetics’ factor of japanese society.

[15-02-08; 05:24; “Leaving on the jetplane” ON]

Seharian, artikel ini nggak aku lanjutkan. Bingung sama topik yang mau diangkat. Tapi kemudian aku justru berkaca dengan pengalaman tarbiyahku sendiri. Kemarin sore halaqahku batal berjalan. Mendadak ‘babe’ berhalangan hadir karena suatu alasan. Saat itu pikiranku kemudian melayang dalam renungan, tentang kondisi yang kualami beberapa belas bulan yang lalu. Masih berkaitan dengan keberjalanan halaqahku kala itu.

Halaqahku sejak tingkat satu sampai tingkat akhir kerapkali mengalami kemajuan dan kemunduran semangat. Ada saat dimana kami pernah vakum berminggu-minggu, lalu kemudian berjalan rutin kembali. Ada saat dimana rata-rata kehadiran peserta hanya 50% selama berbulan-bulan, padahal anggotanya cuma berempatan orang. Ada saat dimana pertemuan kita rutin pada waktu yang pasti, ada pula saat dimana pertemuan halaqah ditentukan begitu fleksibel tergantung matchnya jadwal dan jarkom. Dan hingga beberapa bulan kemarin (sebelum mutasi kelompok) ternyata kelompok ini masih bisa bertahan, walaupun selama dua tahun cuma bersisa empat orang.

Satu hal yang mau aku soroti dari keberjalanan halaqahku adalah, fenomena yang kutemui seputar mentalitas dan semangat komunal. Pada pertengahan tahun 2006 lalu, si ‘Babe’ dapet amanah baru sebagai kepala keluarga, yang membuat beliau pindah tempat tinggal. Hal ini ternyata berefek banyak pada keberjalanan halaqah kami. Yah… bisa dibilang ‘jet-lag’ lah…! Dulu kita punya tempat ‘nongkrong’ tetap, karena perubahan status itu kita nggak bisa menggunakan tempat yang biasa kita gunakan itu. Kita sempet vakum beberapa lama, tetapi akhirnya bisa mulai janjian lagi dengan menggunakan lokasi sebuah masjid di daerah utara Bandung.

Selama beberapa kali, pertemuan tidak berjalan mulus, karena yang hadir hanya 1-2 orang. Hal ini berubah justru saat lokasi pertemuan kami pindah kerumah beliau yang ada didaerah pelosok. Butuh waktu sekitar 15-30 menit berjalan kaki dengan rute yang nyebrang sungai, mendaki gunung, lewati lembah (ninja hattori kaleee!) untuk bisa sampai disana. Bayangin aja kalo kita biasanya berangkat isya, terus baru mulai jam setengah 8 ato jam delapan, selesai jam sepuluhan plus perjalanan balik, biasanya aku sampe rumah (ato kampus) sekitar jam 11 malam. Tetapi justru saat itulah kita malah hampir selalu komplit dan keterikatan kita justru lebih kerasa.

Karena lokasi yang jauh di ujung dunia itu, selama jalan kaki kita jadi punya waktu ngobrol yang intens satu sama lain. Hal ini yang membuat kita jadi lebih deket satu sama lain. Akupun menyimpan kesan pribadi bahwa saat-saat itulah hari-hari terbaik di halaqahku. Aku merasa lebih sehat dan fit secara ruhiyah, pertemuan halaqah terasa begitu nikmat dan me-recharge semangatku untuk beraktivitas dikampus. Saat itulah aku begitu bersyukur masih ada di gerbong ini.

Kondisi ini tidak berjalan terus menerus. Di akhir awal Syawal 1427 H, hal ini tiba-tiba berubah. Seorang anggota kelompok sakit, yang membuat beliau tidak bisa keluar malam selama beberapa bulan. Otomatis halaqah digeser menjadi siang atau sore (sampe kita diledek ikhwan lain karena jadi kayak liqonya ‘ibu-ibu’ a.k.a akhwat). Lokasipun berubah lebih dekat dengan kampus agar mudah dijangkau. Disinilah absensi kita lagi-lagi merosot jadi rata-rata 50%. Yang datang cuma si Mas’ul (*sambil tengok kanan-kiri* siapa ya mas’ulnya…? hehe!) plus satu anggota yang lain, shift-shiftan. Pertemuan kta berjalan lebih garing dan jarang sekali ada materi, yang paling dominan itu justru sesi cucurhatan qadhaya.

Yang bisa kita ambil disini adalah, sedikit contoh bahwa memang benar, attitude dan mentalitas kita memang sedikit banyak di-drive oleh lingkungan. Tapi di sisi lain ada faktor internal yang lagi-lagi berpengaruh signifikan. Faktor itu kalau dihalaqah kita ya… pembentukan karakter individu dalam proses tarbiyahnya itu sendiri. Disatu sisi kita selalu berbenturan dengan dinamika aktivitas dan lingkungan, di sisi lain hal itu terimbangi dengan adanya tempaan ruhiyah dalam halaqah. Jadi semakin keras dan intensnya proses tarbiyah tiap individu (baik di dalam halaqah atau secara mandiri diluar) adalah suatu keniscayaan seiring semakin besarnya amanah dan kerasnya lingkungan yang di tanggung oleh si individu itu.

Aku kembali mengambil analogi, proses diatas mirip seperti perbandingan struktur intan dan arang. Walaupun sama-sama tersusun atas atom karbon, intan memiliki tingkat kekerasan dan keindahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ‘saudara tirinya’ arang. intan terbentuk karena kondisi lingkungan yang ekstrim selama jangka waktu yang lama. Tekanan dan suhu tinggi membuat susunan atom dalam molekul intan terbentuk dalam kondisi yang paling rapat dan solid. Sebaliknya atom-atom karbon dalam arang yang tidak mengalami kondisi serupa teksturnya tidak solid dan tercerai-berai. Semua itu, selain karena kondisi lingkungan juga didukung struktur elektron atom karbon yang memungkinkan konformasi tetrahedral. Hal ini kusebut sebagai faktor ‘genetika’nya dari atom karbon.

Maka dari itulah kupikir kemudian aku menemukan penyebab mengapa ikhwah yang berada di pelosok pedalaman atau di luar negeri (berpeluang) lebih mantap tarbiyahnya ketimbang di indonesia. Walaupun frekuensi halaqahnya mungkin lebih jarang dari kami yang di Indonesia, tapi proses tarbiyahnya sendiri berjalan sepanjang waktu karena lingkungan yang lebih keras. Tetapi itu semua kembali lagi ke masing-masing individu, bertahan atau berguguran akhirnya balik pada pilihan masing-masing. Jika tidak ada kemauan untuk membina diri, pertemuan-pertemuan rutin kita hanya akan jadi rutinitas tanpa makna. Tetapi dengan azam yang kuat, berapa lama pun halaqah kita vakum, proses tarbiyah akan senantiasa berjalan.

So, which one we choose, being a diamond or a charcoal?

Wassalam….

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku… berlapis pagar duri disekitarku…

Tak satu pun yang mampu menghalangiku… menyala di dalam hatiku…

Hari ini, hari milikku… Juga esok masih terbentang…

Dan mentari ‘kan tetap menyala… disini, diurat darahku…

disini didalam hatiku…

[Mentari, Abah Iwan Abdurrahman]

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.

& Komentar

  • At 2008.02.16 09:32, amir said:

    maaf, tadi salah masukin komen… ko kalo yang seperti ini cenderung milih jadi charcoal yah?

    *Orange-range : Sayonara* On

    • At 2008.02.21 12:27, tata said:

      saya mau jadi alotrophinya karbon yang jadi baru aja: C60 alias fullurene. strukturnya seperti bola. sedang digemari di seluruh dunia untuk aplikasi semikonduktor, nanomedicine, dan nanosensor. Tidak bisa dibentuk secara alamiyah, tapi harus direkayasa dengan teknologi tinggi.

      (Required)
      (Required, will not be published)