Akhir 1428 H
Akhir 1428 H
[Markaz, 10 Januari 2008; “Beberapa minggu yang lalu….”]
Pada akhirnya, aku dihadapkan pada satu dari dua kemungkinan… Menjadi pencundang atau berdiri tegak sebagai pemenang tantangan kehidupan. Aku pernah menyerah… tunduk pada mimpi buruk yang membabat habis semua cita yang tersisa. Saat detik-detik waktu telah lenyap, hanya sesal yang menemani kesendirianku, mengawang bersama sayup-sayup gurauan anganku mengingat hentakan sang SENJA.
Aku telah mati dua kali, terbunuh oleh kebodohanku sendiri. Sang takdir bahkan telah enggan menantangku memasuki pergulatan-pergulatan baru bersama para pencari cahaya. Dan kesepian yang dulu datang lagi… dengan wujud yang sama, bersama keentahan yang tidak sedikitpun memberiku petunjuk arah melalui badai ini.
Bualan bodohku beberapa hari yang lalu, melengkapi nestapa imaji skizoprenik yang semakin menghantui dengan bayang-bayang kehilangan atas sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kumiliku.
Aku bingung… ternyata aku masih cukup bodoh untuk tetap mengingatmu SENJA… dan masih mengingatmu… Padahal kesadaranku tak henti mengajak berdebat… mempertanyakan cahayamu yang kuakui terlalu terang untuk dimiliki.
Setengah perjalanan hari telah cukup menjadi bukti… seberapa hitam-putih sekat yang membatasi. Dan penghujung 1428 menjadi akhir babak penantian yang kuharap sudah berakhir. Tapi akankah? Ego ku masih tak henti bertanya-tanya. Aku masih sibuk mencari-cari alasan untuk menghibur diriku sendiri. Akankah sebentar lagi kebodohan ini segera berakhir? Akal sehatkupun tak berani menjawabnya.
Diakhir 1428 aku masih bertanya-tanya…
Wassalam….



















Wall RSS Feed
Tidak ada Komentar