[CERPEN] Layar-Layar Kaca

Jumat, Februari 22, 2008 14:29
Posted in category mahasiswa, menulis, refleksi

Layar-Layar Kaca

[Diikutsertakan dalamLomba Cerpen PBT ITB 2008]

Selasar labtek biru ITB, 12:49, Senin 18/02/2008

Rrrttttt….!!! Handphone di tas pinggang gadis itu bergetar.

“Ya Hallo… Assalamualaikum.”

“Oh, selamat siang. Apa benar ini dengan Prastikasya? Saya mau pesen infokus untuk besok bisa nggak ya?” jawab suara diseberang telepon.

“Oh, ya… saya sendiri, tapi cukup panggil saya Kaca. Besoknya jam berapa ya pak? Soalnya besok ada beberapa pesanan juga tuh pak.” Jawab sang gadis sambil membolak balik buku catatan orderannya.

“Kita butuhnya jam 10 sampai 13 mbak, bisa?”

“Ok deh… no problemo…” ujar Kaca santai.

“Hah… apa?” tanya si bapak mencoba mengoreksi telinganya.

“Bisa pak… bisa! Alamatnya dimana ya pak…”

Kaca mencatat alamat itu di bukut catatannya. Pembicaraan itu akhirnya ia akhiri dengan nafas lega. “Alhamdulillah, satu orderan lagi besok…” pikirnya.

—===|||===—

 

Jl. Badaksinga depan PDAM, 13:39, Selasa 19/02/2008

Sosok itu semakin memperlambat larinya. Ia tak sanggup lagi untuk menghindar lebih jauh. Semua energinya telah habis digunakannya berlari sejak dari balubur. Sudah sekitar 10 menit ia kucing-kucingan dengan warga yang mengejarnya hingga kesana. Dibalik tong sampah ia amati balok-balok kayu, sapu hingga linggis telah menunggunya.

Tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya  akan berada dalam situasi macam ini. Rasa takut mengalir menyelimuti tubuhnya, bersama tangis yang sejak tadi ingin mendobrak keluar dari matanya. Semua rasa campur aduk bersama kebingungan tentang mengapa ia harus terjebak dalam kejadian semacam ini. Ia coba berpikir jernih, jika ia menyerahkan diri, mungkin warga akan tidak akan menghajar dirinya. Ia memunculkan dirinya, masih dengan sweater hitam yang menyelimuti badannya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi seakan menunjukkan dirinya tidak berdaya.

Keputusan yang salah! Massa yang terlanjur beringas segera menghampirinya dengan segenap emosi yang meledak. Sosok bersweater hitam itu panik, ia mencoba berlari lagi. Tapi kakinya tidak mau berkompromi lagi. Ia tidak sanggup berlari lebih jauh lagi. Dan… brakkk… sebuah balok kayu menghantam punggungnya.

“Ampuuuunnn… sakit!” jeritnya dengan suara yang hampir tenggelam dalam riuh gerombolan massa yang semakin bertubi-tubi menghantam tubuh itu. Dengan sisa tenaganya ia mencoba mengiba-iba pada mereka. Tiba-tiba pikirannya melayang pada sosok Papa… Mama… si Mbok… rumah kesayangannya… Imo…

Kenapa aku terjebak disini?

—===|||===—

 

Jl. Tamansari didepan Pasar Balubur, 13:24, selasa 19/02/2008

Sinyo

Maafkan aku Tuhan…” pemuda itu berbisik lirih. Pikirannya yang kalut tidak lagi dapat berkompromi. Uang yang ia dapat dari mengamen beberapa hari kemarin tidak mungkin dapat membayar hutangnya yang jatuh tempo nanti malam. Iapun tiba-tiba teringat pula dengan adiknya yang harus segera membayar tunggakan SPP di sekolahnya. Ia masih bertekad adiknya yang semata wayang tetap harus bersekolah, apapun caranya! Ia tak ingin adiknya, Imo selamanya menjadi pengamen seperti dirinya, pemuda rantau dari timur yang hanya lulus SD.

Dan kini, ia melihat satu kesempatan… seorang ibu baru saja selesai berbelanja di pasar itu. Sudah cukup lama Ibu itu menunggu di pinggir jalan. Berkali-kali angkot melintas didepannya, namun ia tidak juga menyetop salah satu angkot itu. Setelah beberapa saat ia terlihat gelisah, lalu mulai menelepon, sambil tetap menengok kekanan dan  kekiri jalan. Rupanya ia akan dijemput, entah oleh siapa.

Sinyo sejak tadi memperhatikan tas belanja ibu itu dibiarkan tergeletak di trotoar, sedangkan si pemiliknya mondar-mandir dengan gelisah. Ada satu tas berwarna hijau dan tiga kresek ukuran tanggung. Ia juga memperhatikan dengan jelas bahwa si Ibu mengeluarkan handphonenya dari dompet yang ia letakkan di dalam tas hijau itu. Sepintas terlihat deretan kartu ATM dan beberapa lembar lima puluh ribuan menyembul dari dompet belanja itu. Itulah yang menjadi targetnya saat ini!

Tidak ada kesempatan sebaik sekarang yang dapat menyelesaikan masalahnya tadi. Tidak mungkin ia meminjam lagi ke teman-temannya. Semua sudah pernah meminjaminya uang, dan hingga sekarang lebih sering teman-temannya itu merelakan untuk menghapus hutangnya ketimbang terbayar lunas oleh Sinyo. Segera gitar bututnya ia sembunyikan di balik warung rokok disudut pasar. Capuchon dari sweater hitamnya segera ia tutupkan kekepalanya. Dengan gaya senatural mungkin, ia berjalan kearah ibu tadi.

Dan…

 

Jl. Tamansari didepan gang Pelesiran, 13:24, selasa 19/02/2008

Kaca

Dengan wajah berlipat, Kaca meninggalkan gedung kantor itu. Bukan karena pelanggannya kali ini membayar tidak sesuai tarif. Tetapi ledekan bapak-bapak karyawan disana yang membuat kupingnya panas. Bapak-bapak itu seakan tidak percaya begitu melihat sosok Kaca yang mengantarkan LCD projector pesanan mereka. “Memang apa yang salah dengan menjadi tukang LCD projector? Ini kan pekerjaan halal!” gerutunya dalam hati. Terngiang-ngiang perkataan seorang bapak…

“Anakku itu masih seumurmu lho… kerjaannya dandaaaa..nn saja dirumah… kamu apa nggak nyesel harus keliling-keliling seperti ini? Kamu itu kan…”

Stop! Kaca menghentikan lamunannya. Ia muak dengan kata-kata selanjutnya. Memang apa yang salah jika dia seorang gadis? Lantas apa urusannya kalau ternyata ia lebih memilih berkeliling seperti ini sebagai pengantar LCD projector? Memang kenapa kalau ia lebih suka berkeliaran di jalan dibandingkan gadis-gadis sebayanya. Toh aku bukan melacur… atau menjual diri jadi figuran sinetron!

Kaca sama sekali bukan berasal dari keluarga tidak berpunya sehingga ia harus menjalani pekerjaan sambilannya ini disela-sela kuliahnya di tahun pertamanya di ITB. Kedua orang tuanya bekerja dengan penghasilan yang mapan. Rumahnya pun berada di kawasan elit Kanayakan. Orangtuanya sudah berkali-kali menawarkan mobil sebagai kendaraannya untuk berkuliah, yang hingga sekarang masih ngotot ditolaknya.

Satu-satunya yang mendorongnya mengambil pekerjaan ini adalah karena ia tidak ingin bergantung pada apa yang diberikan orang tuanya. Pengalamannya bertemu Imo dan Pak Santoso saat berjalan kaki di sekitar Surapati-Dago menyadarkannya tentang banyak hal. Ia jadi merasa perlu menantang dirinya untuk mandiri seperti kedua sosok sahabatnya itu. Imo seorang bocah 7 tahun, kelas 2 SD yang mengamen untuk membantu kakaknya menghidupi kebutuhan sehari-harinya, sedang pak Santoso seorang tukang servis TV yang walau semakin terhimpit dengan jarangnya orderan masih konsisten untuk berinfak.

Kaca coba menenangkan hatinya yang masih meledak-ledak. Disusurinya jalan Tamansari segera menuju kekampus. Ia menyebrang jalan menuju pasar agar bisa memotong jalan ke arah Salman. Digunakannya capuchon sweater hitamnya untuk menutupi kepalanya dari teriknya matahari siang.

—===|||===—

 

Villa Kanayakan Indah, 06:24, selasa 19/02/2008

Keluarga Kaca

Seperti biasa rutinitas pagi di rumah ini di awali dengan teriakan khas dari Mama yang membentak-bentak kesemua orang dirumah. Hari itu memang kebetulan si Mbok agak sedikit telat menyiapkan sarapan untuk Papa, Mama dan Kaca. Papa yang mencoba menenangkan istrinya itu, akhirnya harus puas terkena damprat Mama. Wajar jika Mama begitu sewot pagi itu, pukul sepuluh nanti ia harus presentasi proyek penting di Jakarta, dan hingga 6:30 pagi ia masih di rumah.

Kaca sudah kebal dengan rutinitas pagi itu. Bentakan Mama sudah terlalu familiar baginya. Gerutuan singkat sempat ia gumamkan sebelum akhirnya ia ingat dengan obrolannya kemarin dengan pak Santoso. Pria tua itu bercerita tentang masa mudanya serta pembangkangannya terhadap orangtuanya. Kedua orangtuanya meninggal saat dirampok tanpa ia dengar berita. Waktu itu ia sedang merantau di Jakarta, hubungannya yang kurang baik dengan orangtuanya menyebabkan ia baru mengetahui kabar itu setelah 15 tahun kemudian. Dalam penyesalannya, pak Santoso menasehati Kaca agar jangan pernah lupa berbakti dan mendoakan kedua orangtuanya selagi mereka hidup.

Pukul 06:40… ia hampir terlambat! Kaca segera bergegas menghabiskan sarapannya. Ia segera menghampiri Mama yang masih panik.

“Ma… Kaca berangkat.” serunya sambil menyambar tangan Mamanya, kemudian menciumnya khidmat, begitu juga dengan Papanya.

Mama terpaku tak percaya… ini pertama kalinya Kaca berpamitan…! Ia pandangi anaknya itu. Dasar tomboy… anak semata wayangnya itu berangkat kekampus dengan sweater hitam bututnya, celana jeans belel kebesaran, dan sepatu kanvas.Bukan satu dua kali ia mengingatkan Kaca untuk lebih feminin, tapi hal itu nampak tidak ada artinya.

“Ca… hati-hati di jalan ya…” panggilnya dengan sebuah senyum… senyum doa seorang ibu kepada anaknya.

“Ok deh Ma…” jawab gadis itu ceria seraya menghilang dibalik pintu.

Hati sang Mama tiba-tiba berdegup kencang bercampur khawatir. Kenapa ya…

—===|||===—

Villa Kanayakan Indah, 16:24, 19/02/2008

Mama

Seluruh tubuh Mama letih tidak terkira. Perjalanan bolak-balik Jakarta-Bandung sangat menyita energinya. Untung saja presentasi berjalan lancar, dan tender dari perusahaan asing itu berhasil dimenangkan kantor sang Mama. Ia mencari-cari si Mbok kebelakang, meminta dibuatkan secangkir kopi dan disiapkan air hangat untuk mandi. Sambil menunggu, direbahkannya dirinya disofa ruang tengah. Diraihnya remote control TV dan segera asyik memindah-mindahkan saluran.

Dan, tap…! Ia berhenti pada sebuah siaran berita yang sebenarnya tidak terlalu menarik perhatiannya. Mendadak ia ingat sesuatu… dan segera menyambar telepon. Tiba-tiba ia ingin berbicara pada suaminya…

Halo Pa… ini Mama… Ingatkan, hari ini hari apa? aku mau bla… bla… bla…” ucapnya panjang lebar, hingga kemudian berhenti tiba-tiba saat matanya tertuju pada layar kaca…

“Halo Ma… Ma… kenapa Ma…?”

“Pa… Kaca Pa…!” serunya berteriak diikuti tangis histeris… dan “…di TV Pa… Kaca!”

Dari layar kaca tertayang sebuah berita…

Seorang mahasiswi PTN di Bandung tewas dikeroyok massa. Peristiwa ini terjadi karena salah tuduh setelah sebelumnya terjadi insiden pencopetan di depan pasar Balubur, Tamansari, Bandung. Korban diidentifikasi bernama Prastikasya, umur 18 tahun yang tinggal di daerah Kanayakan. Hingga kini pelaku pencopetan yang asli belum ditemukan. Beberapa warga yang dimintai keterangan tidak mau menjelaskan lebih jauh awal insiden itu…

ADA KACA… DI LAYAR KACA…!!

 

Perempatan Tamansari-Surapati, 16:24, 19/02/2008

Kios mungil itu dipenuhi TV-TV tua yang berjejer memenuhi semua sudutnya. Seperti biasa Imo bermain-main bersama Pak Santoso di kiosnya. Ia memang senang berada di kios ‘kakek’ angkatnya itu. Ia dapat melihat berbagai tayangan dari TV-TV yang telah selesai diservis oleh Pak Santoso. Maklum, dirumahnya yang reot, Imo tidak memiliki TV. Pak Santoso memang membiarkan TV-TV itu menyala dengan saluran yang berbeda-beda.

Sore ini agak berbeda karena ia memang sengaja tidak mengamen, mereka berdua menunggu Kaca. Mereka berencana memberikan kejutan untuk gadis itu. Hari ini adalah hari ulang tahun Kaca. Memang bukan kue taart blackforest atau tumpeng istimewa… hanya nasi kuning yang di buatkan istri pak Santoso. Imo sudah menyiapkan lagu untuk ‘kakak’nya yang sering memberikan hadiah berupa buku-buku dan alat tulis untuk keperluan sekolahnya. Kaca juga telah membantunya belajar membaca.

Tiba-tiba Sinyo datang dengan pucat pasi… rasa takut yang masih menghantuinya belum kunjung hilang. Masih jelas terbayang kejadian tadi siang yang sama sekali tidak disangka-sangka. Ia berhasil mencopet dompet ibu tadi, dan segera kabur… Warga mengejarnya… tanpa sengaja ia menabrak seseorang, perhatian warga yang kalap teralihkan. Mereka mengira Ia serta orang yang ditabraknya berkomplotan karena sweater keduanya amat mirip dan mulai mengejar mereka berdua.

Saat itu ia menyadari bahwa orang itu adalah seorang gadis yang nampak kebingungan dengan insiden yang tidak ia sangka-sangka. Sinyo menyadari kepengecutan dirinya yang segera berlari menghindar sekencang-kencangnya menerobos jalan-jalan tikus didaerah itu. Sang gadis yang semakin panik juga mencoba kabur mengikutinya tapi tertinggal jauh dibelakangnya. Ia sempat menoleh pada wajah memelas ketakutan yang telah kehabisan tenaga itu, tapi… dirinya sudah terlalu takut untuk berhenti… dan tak peduli lagi. Entah mengapa wajah memelas itu kini melayang kembali dihadapannya bersama rasa sesal yang dirasakannya.

Imo melihat kakaknya dengan aneh. Tidak biasanya Sinyo terlihat murung didepannya. Kakaknya itu selalu ceria… sama cerianya dengan ‘kakak’nya Kaca yang baru dikenalnya sekitar sebulan lalu.

“Bang… abang kenapa?” tanya anak itu polos.

“Ah… nggak papa…” jawab sinyo dengan senyum yang dipaksakan, “… lho, ada acara apa ini?” tanyanya mengalihkan perhatian sambil mendekati adiknya itu.

“Imo dan abah mau ngasih kejutan ke Mbak Kaca…” jawab bocah itu sambil tersenyum menengok ke pak Santoso.

“Oh ini ya abangnya Imo…” sapa pak Santoso ramah, “ayo ikut disini… kita akan bikin pesta kecil-kecilan” ajaknya kemudian.

Sinyo hanya tersenyum. Ia teringat dengan dua figur yang sering diceritakan adiknya itu. Ia belum pernah bertemu dengan gadis itu atau pun pak Santoso. Hingga beberapa menit kemudian, Kaca yang mereka tunggu-tunggu tidak kunjung datang juga.

“Abah… mbak Kaca!” seru Imo terkejut sambil menunjuk-nunjuk salah satu televisi.

“Innalillahi…!!” pak Santoso terpaku pada layar kaca itu… Ia terkesiap melihat sosok yang sedang mereka tunggu-tunggu telah terbujur kaku diseberang layar.

Sinyo jauh lebih terkejut dibanding keduanya melihat sosok ‘mbak Kaca’ yang dimaksud dengan adiknya tadi. Gadis itu… Wajah memelas yang tadi siang dilihatnya… dia kah… orang yang dimaksud adiknya? Kepalanya tiba-tiba semakin pusing. Wajah memelas Kaca semakin jelas terbayang diwajahnya, bersama rasa sesal yang semakin besar mendesak dari dalam rongga dadanya. Tubuhnya gemetar bersama airmata yang semakin sulit ia bendung.

Setumpuk uang yang sejak tadi digenggamnya dibalik sweater itu kini terasa begitu menjijikkan. Bundel uang senilai Rp. 456 ribu itu kini telah merenggut nyawa seorang gadis… bukan hanya seorang gadis… ‘kakak’ angkat yang begitu disayangi adik semata wayangnya… dan dialah biang penyebabnya!

“Argh…!!” teriaknya seraya tersujud ke tanah…

ADA KACA DI… LAYAR-LAYAR KACA!

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

You can leave a response, or trackback from your own site.
Tags:

1 Komentar

  • At 2008.02.26 08:30, rita said:

    Bagus banget cerpennya. Semoga menang ya :D

    (Required)
    (Required, will not be published)