JJSDK: Oups…
Rabu, Februari 6, 2008 11:35Oups…
Berlembar-lembar naskah berserakan dikamarku. Aku tertarik juga akhirnya dengan tulisan Anin. Kuakui cerita-cerita ini sangat layak untuk masuk dalam content booklet dan pasti menarik bagi mahasiswa baru. Ide cerita yang sederhana tapi mengalir, topik yang akrab dengan dunia transisi antara siswa menjadi mahasiswa, diramu pula dengan canda ringan tetapi renyah membuat cerpen-cerpen Anin begitu hidup.
Entah mengapa, aku lalu teringat pada “Rona Senja” yang misterius itu. Aku semakin penasaran dengan identitas penulis ini yang sebenarnya. Pikiranku melayang, “Seandainya ia seorang wanita, novel itu seakan merupakan wujud seluruh curahan perasaan, ide, dan emosinya.“. Ia telah membuatnya hidup, berwarna dan sangat nyata..
Tiba-tiba aku jadi geli sendiri ketika membayangkan bagaimana jika ternyata pengarangnya seorang cowok. Idih… amit-amit! Aku merinding sejadi-jadinya mengingat bahwa aku sudah keburu jatuh cinta dengan cerita novel itu. Semoga pengarangnya cewek, manis, putih, berkacamata… bla… bla… bla…
—===|||===—
Esoknya, Arie bertemu dengan Anin kembali di depan kantin Salman. Mereka janjian bertemu karena Arie akan menyerahkan naskah yang telah ia edit kemarin. Nyaris tidak ada hal yang perlu disunting dari tulisan itu.
“Tulisan ini bagus-bagus, hampir tidak ada yang perlu ana edit kemarin.”, ujar Arie. Anin hanya mengangguk tersenyum.
“Oh, iya… waktu dipameran itu Anin bilang buku ini sudah habis terjual, kalau mau anti (kamu, arab) bisa pinjam ini. Ternyata benar memang novel ini begitu menarik.”, Arie menyodorkan Novel yang menjadi alasan mereka bertemu saat dipameran.
“Oh, ya? Antum suka buku itu? Perasaan ceritanya biasa saja.”, anin bertanya sambil menerima buku itu.
“Wah… antum mesti baca lagi tuh!”, serunya protes.
“Ceritanya gak keren…”, tambahnya dengan lugas. Anin tiba-tiba merengut mendengarnya. “Tapi kueeeereennnn… bla bla bla !!” lanjut Arie menambahkannya panjang lebar. Anin mendengarkannya dengan seksama. Ia penasaran dengan respon pembaca novelnya.
“ sayang identitas penulisnya misterius. Kalau saja saya tahu, saya cari dan saya ajak kenalan penulisnya. Padahal disitu disebutkan ternyata dia anak ITB lho…”, Arie yang sebenarnya sangat nggak biasa dengan kata-kata ‘Ane-ente’ akhirnya kelepasan.
Anin berbunga-bunga mendengar hal itu. Ia sebenarnya sudah mendapatkan sampel buku tersebut dari penerbit.
“Ooo, gitu ya. Jadi penasaran nih…”, komentarnya. Sebenarnya ia geli juga melihat Arie yang tak sadar bahwa yang sedang Arie bicarakan adalah dirinya.
“Hari ahad ini ada bedah-bukunya di Salman lho, jam 9 di GSS. Kalau ada waktu, datang aja…”, Arie menambahkan. Buku itupun berpindah tangan. Setelah saling memberi salam mereka berpisah.
Arie, tiba-tiba terhenti seperti melupakan sesuatu.
“Eh… hari ahad tolong dibawa ya…” serunya sambil segera nyelonong pergi tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Kalimat tadi seakan sebuah paksaan halus bagi Anin agar gadis itu datang diacara tersebut.
“Tentu saja aku datang.”, ujar Anin dalam hati sambil tersenyum. Adzan dzuhur berkumandang mengiringi berpisahnya mereka.
—===|||===—
Hari ahad yang paling ditunggu oleh Arie akhirnya datang. Hari ini ia bangun tepat saat adzan berkumandang. Setelah olahraga pagi ke Sabuga, ia segera pulang untuk mandi dan bersiap ke Salman, tempat bedah buku dilangsungkan. Ia berangkat lebih cepat karena khawatir peserta akan membludak, maklum buku best seller.
Sesampainya di Salman, terbukti yang ia prediksikan benar. Selasar Salman telah ramai. Di balkon lantai dua pun terlihat orang sudah mulai menunggu. Arie segera sibuk mencari-cari Anin. Ia ingin mengambil Novel yang ia pinjamkan kemarin. Hari ini adalah satu-satunya kesempatan berkenalan dan meminta tandatangan langsung dari sang ‘Rona Senja’. Namun ternyata setelah beberapa menit mencari Anin tak terlihat sedikitpun.
Kerumunan audiens semakin memadati pintu masuk ruangan. Meja registrasi yang ada seakan tidak mampu membendung arus manusia yang mengantri disana. Panitia terlihat sibuk dan kerepotan. Mungkin banyaknya audiens tidak sesuai perkiraan mereka sebelumnya.
Saat registrasi, ia mencoba mencek buku tamu, namun hasilnya nihil. Dengan tergesa-gesa ia pun meninggalkan meja tersebut. Terdesak oleh antrian yang masih memanjang hingga lantai bawah. Setelah masuk ruangan pun Anin tak terlihat batang hidungnya. Dengan agak tak sabar ia duduk, sambil memperhatikan satu-per-satu peserta yang masuk.
—===|||===—
“Ah, itu dia…”, Arie gembira saat akhirnya Anin datang. Ia berniat menghampiri, tapi tempat yang telah penuh sesak membuatnya mengurungkan niat tersebut. Tidak ada tempat tersisa untuk berpindah tempat. Gerah dan pengap mulai terasa menyelimuti ruangan itu. Tak lama kemudian acara dimulai, seorang MC maju membuka acara.
“Para hadirin semua, selamat datang di bedah buku ‘Suami Keren: Most Wanted’. Kami selaku panitia mohon maaf jika tempat yang kami sediakan kurang. Hari ini begitu banyak yang hadir, melebihi prediksi kami. Kemudian… bla bla bla…”
“Aduh, kapan mulainya sih…”, gerutu Arie melihat seremonial itu. Ia menoleh ke Anin dan pas… ternyata Anin pun melihatnya. Anin memberi isyarat salam –mengangguk sambil tersenyum–. Ia terlihat sangat manis dengan jilbab biru langit yang serasi dengan bajunya yang sewarna dan rok putih berbunga-bunga. Sederhana namun anggun. Arie membalasnya dengan senyum, ia jadi agak kasihan juga dengan Anin yang harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
“Untuk tidak memperlama lagi kita akan langsung mulai sesi pertama, kita panggilkan para panelis kita… yang pertama tentu saja penulis buku ini, Anindya Pratiwi yang biasa kita kenal dengan Rona Senja…”
Aku masih belum mengenali nama itu, tapi… Penasaranku tiba-tiba berubah menjadi terkejut! Apa…? Masih setengah tidak percaya kulihat Anin maju kedepan dan duduk dikursi panelis. Ia yang sedikit kaku mencoba tersenyum dan memberi salam pada audience. Ia terlihat semakin manis dengan senyum gugupnya itu.
“Mungkinkah ia sang Rona Senja?” gumamku masih tak percaya. Gadis yang meminta novel itu di Pameran? Anggota tim ku sendiri didivisi Booklet? Tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Kagum, penasaran, bingung dan malu atas apa yang kulakukan padanya bercampur menjadi satu.
—===|||===—
Aku coba menyimak paparan dari para panelis, tapi konsentrasiku tak mau berkompromi dan terfokus pada hal lain. Takjub bukan main yang kurasakan membuat aku hanya terfokus pada si akhwat penulis itu. Secara ‘spontan dan terencana’, aku segera menyusun strategi untuk dapat menemui si ‘Rona Senja’ itu segera setelah acara ini selesai.
Aku yakin nanti para audiens akan segera menyerbunya untuk berkenalan dan meminta tanda-tangan. Oleh karena itu aku keluar dari barisan dudukku yang sesak, memutuskan berdiri didaerah samping dari panggung. Daripada kejebak disana lebih baik berdiri hingga acara selesai tapi dapat segera menemui sang penulis saat acara ditutup. Bodohnya, ternyata ada beberapa audiens yang lain melihat dan berbuat hal yang sama.
Lho… lho… lho, kok kayaknya aku kenal mereka. Ternyata Tresno, Amin, Rohmat, Ikbal, … aduhhh… ini sih ‘Korps Bujang Taman Hewan’. Itulah panggilan kami bagi komunitas kosan kami karena tidak ada satupun yang pacaran. Mmm… ada sih, Tresno yang setelah perjuangan dengan semangat ’45-nya akhirnya ‘terpaksa’ diterima menjadi pacar dari seorang anak TPB karena kasihan. Gak lebih dari satu hari kemudian pacarnya minta putus.
“Waduh, mas-mas mau ngapain nih?”, tanya moderator melihat ‘gerombolan sableng’ ini telah ada disamping panggung.
Kami tanpa dikomando sepakat untuk kaget dan melongo menyadari posisi kami yang memang sangat mencurigakan itu. Aku berinisiatif untuk mundur kebelakang sebelum semua mata menuju kearah kami, berharap ‘gerombolan yang tidak diundang’ ini mengikuti. Tapi prediksiku meleset, sodara-sodara! Saat aku telah ada dibelakang mereka, serempak mereka duduk ‘lesehan’ dan tidak menyisakan seinci pun tempat yang memungkinkan orang untuk maju kedepan.
—===|||===—
Setelah bersusah payah mengantri, akhirnya tinggal sekitar sepuluh orang lagi yang ada didepanku. Dibelakangku? Jangan ditanya berapa panjangnya antrian itu. Tak sabar kutunggu giliranku. Tapi… tiba-tiba ada panitia yang membisiki Anin dari dari belakang. Aku punya firasat yang kurang enak dengan hal tersebut.
Dan benar… tiba-tiba seorang Panitia memberikan pengumuman. “Perhatian saudara-saudara, kami mohon maaf karena adanya agenda lain dari penulis kita ini, sesi tandatangan harus kami akhiri. Kami selaku panitia mohon maaf sebesar-besarnya.”
Terdengar koor “Aaahhh…” lesu di seluruh ruangan, disertai kekecewaan para audiens yang dengan berat hati meninggalkan Gedung. Derap langkah mereka bergemuruh sepanjang lantai dua gedung itu. Sebagian masih coba bertahan dalam ruangan, sebelum akhirnya Anin benar-benar bersiap akan pergi.
Sebelum beranjak dari kursinya, selintas Anin sempat melihat Arie diantara kerumunan sebelum akhirnya ia meninggalkan meja tandatangan itu. Ia coba menoleh, dan berusaha kembali, namun kawalan panitia tidak memberikan ruangan baginya. Dilihatnya Arie pun melambai-lambaikan tangannya, mencoba memanggil dirinya, namun suaranya terkalahkan riuhnya suara sepanjang antrian itu. Dan… merekapun terpisah seakan ada sekat tak berbatas yang menghalangi mereka berdua.
Traktir aku klo kmu suka artikel ini...



