Home » Featured, refleksi

Skakmat! Aku mati kutu…

30 Januari 2008 58 views No Comment

Skakmat! Aku mati kutu…

[Markaz, 28 jan 2008; “No turn over, but there’s many thing to consider…”]

Tadi malam aku membaca sebuah tiga seri artikel yang setelah kukonversi ke word menjadi 18 halaman. Artikel dari seorang ustad ini terasa ‘menampar’ku berkali-kali, sehingga membuatku ber-‘oh… iya ya!’ berulang-kali. Aku merasa bodoh seketika, karena apa yang dibahas disana semua kuamini kebenaran logikanya. Oh… iya ya…! Seorang muslim memang harus jadi orang kaya. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi lebih dari itu karena secara realistis harta merupakan sebuah wasilah yang universal agar dakwah bisa diterima dari golongan Alit hingga yang elit. Semoga aku nggak salah tangkap (atau terlalu Ge eR) tentang mengapa artikel ini ada diblog itu.

Diakhir artikel, aku tersenyum-senyum sendiri. Erry yang melihat tingkahku yang aneh sempat kubuat penasaran. Dia berulang kali bertanya-tanya. Dia lebih bingung lagi karena itu bukan ekspresi yang biasanya ia lihat dari ku. Biasanya dia tahu pasti kalo aku punya masalah kalau sudah menarik nafas panjang-panjang lalu ber“Huh…!”-ria. Aku hanya bilang, semestinya dia bersyukur aku tersenyum tidak ber-hah-huh-ria seperti biasanya.

Aku seperti dibangunkan dengan paksa dari mimpi. Artikel itu ‘menampar’ pikiranku seperti berkata “Oi… bangun! Jangan mimpi terus! Ayo kejar…”. Aku harus lebih serius di GPH! Kalo ibaratnya organ, aku jantungnya! Makanya… aku harus bangun… karena indonesia menunggu milyader baru yang nggak hanya kaya tapi soleh juga. Apakah aku salah satunya?

Bukan mundur, tetapi berpikir ulang… merencanakan yang lebih baik, agar tidak ada yang dirugikan…

Makanya… Ayo bangun!

Oh iya ya… sepertinya aku kurang ma’iyatullah…

Oh iya ya… aku kurang pertimbangan…

Oh iya ya… aku terlalu gede-di-semangat-doang…

Oh iya ya… itu butuh perencanaan…

Makanya… Ayo bangun!

Wassalam….

============================================================

Update 15:35 Waktu Indonesia bagian Bandung:

Alhamdulillah… aku justru malah lega begitu mendengar keputusannya…

Kayak pilkada, gagal berhasil yang penting mah usaha…

Bismillah… dan hari-hari pun kembali seperti biasa…

[Memang ya, akhwat itu lebih cepet dewasa dari ikhwan... atau cuma karena akunya yang O’on aja?]

Traktir aku klo kmu suka artikel ini...

Tidak ada Komentar

(Required)
(Required, will not be published)
If your website is claim enabled, it will be notified that you have posted here.