Hmm… ruangan labkom yang ber-AC perlahan mulai memperlambat laju keringatku yang keluar (Cie… sok puitis). Akhirnya setelah panik tadi pagi, laporan KP akhirnya *hampir* terselamatkan. Iya nih… gara-gara salah tunjuk warna cover, 50 ribu rupiah melayang… Laporan KP yang *harusnya* sudah siap kemarin sore jadi molor… Tetep aja dikumpulinnya mendekati *ajal*.
Anyway, kalo hari ini nggak ngumpulin laporan ini ke TU, nilaiku keancam E untuk yang kedua kalinya. Dasar aneh… orang mah 2 tahun ngerjain TA, aku butuh dua tahun untuk sekedar KP. InsyaAllah masih keburu sih… tapi kemana ya si Ibu kita Kartini… eh, bu Endah deng! Tidak terlihat batang hidungnya sejak pagi.
Disk (heart) defragmentation
Kalo ibaratnya harddisk, hati itu penuh dengan berbagai perasaan, ekspresi, dan pengalaman. Mereka ini bersliweran didalam hati saling tumpang tindih, kadang-kadang keluar dalam bentuk yang campur-baur membuat kita kaya gado-gado ato nano-nano (manis-asam-asin-rame-rasanya!). Mungkin karena banyaknya perasaan yang campur-aduk memenuhi pikiran kita itulah kadang-kadang kita bingung dalam menentukan apa yang menjadi prioritas keseharian kita (contohnya aku nih!).
Jadinya tiba-tiba aku jadi inget sama analogi harddisk tadi. Hati kita butuh di-defrag (defragmentasi -tapi dasar orang sini, pengennya disingkat2-), biar kita tetep selalu dalam kinerja prima. Perasaan-perasaan yang tumpuk-menumpuk butuh secara rutin ditata ulang biar hati kita cukup lowong untuk menjalani seluruh aktivitas kita. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan fokus sejenak pada aktivitas ruhiyah… tilawah gitu… ato jalan-jalan ngegelandang sambil ngamen kayak Andrea Hirata di ‘edensor’nya…
Buat saya butuh effort besar juga untuk menata hati kembali (Biar fokus ke TA… aku jatuh cinta dengan TA… *menyemangati diri sendiri* hiks). Sekarang ada ruang kosong untuk berpikir tentang banyak hal. Berpikir tentang kinerja hidup yang belum optimal, ato bisnis yang harus lebih dijalani secara dewasa dan bertanggungjawab (huh… tau apa aku tentang tanggungjawab? ternyata masih panjang jalan ku tuk belajar tentang hidup).
Sedikit mengenang masa lalu, ada lagu yang aku suka dari anak-anak Aulade Gemintang yang albumnya pernah aku miliki dulu sebelum aku masuk pesantren… Heran aku masih hafal isinya hingga kini.
Kusambut pagi yang cerah… bersyukur pada Pencipta
Kusambut siang yang riang… bersyukur pada yang Kuasa
Kusambut sore yang indah… bersyukur pada yang Esa
Kusambut malam yang gemilang… kepada Mu kumemohon… (Kepadamu… ya Allah)
Ardee’est Thing In MyLife
[Selamat tinggal SENJA, selamat datang Mentari baru!]
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me