Tadi malem aku lapor ke Ibuku soal progress TA yang untuk kedua kalinya gagal di satu tahap. Sekalian iseng aku laporkan juga ‘progress’ yang lain… Kubilang bahwa aku lagi nunggu jawaban dari akhwat yg… bla… bla… bla…
Ibuku seperti biasa menghiburku dengan kalimat-kalimat motivasi supaya nggak down dengan TA ku, plus tambahan sedikit:
“km jgn matok tinggi2 u/Akhwt, klo kbanting sakit!”
Aku sekali lagi hanya bisa tersenyum. Iya sih… bener juga, makanya harus siap mental.
Tiba-tiba saja aku jadi inget betapa jarangnya aku mendoakan ayah dan ibu. Bukan jarang terucap, tetapi jarang menyertakan ruh/spirit dari doa itu bersama dengan lafadz yang terucap secara otomatis saking seringnya terucap sejak kecil…
Tiba-tiba saja tenggorokanku sesak, tercekik…, dan tiba-tiba semua perasaanku tumpah disitu…
Di detik-detik terakhir malam tadi… doa itu terucap kembali. Kini suara itu datang jauh dari dalam dadaku… bersama mulutku yang seketika bisu nggak mampu berucap apapun.
If you see my blog content is valuable, please consider to treat me